Sedikit kenangan tentang kakek

November 2, 2020

"Ayu punya buku tulis yang sudah gak terpakai tapi masih ada halaman kosongnya?" ujarnya setiap kali bertemu dengan saya.

"Ada, buku yang masih kosong belum ayu pakai sama sekali, pa" jawab saya. Ia menolaknya dengan halus "Buku yang udah bekas aja, kalau belum terpakai kan nanti bisa ayu yang pakai, yang udah bekas aja" ia bersikeras.

Saya memanggilnya dengan sebutan bapa dan tak pernah tau berapa umurnya, ia kakek saya, ayah dari ibu saya, dan saya baru mengetahui umurnya ketika hendak membuat buku yasin untuk peringatan 40 hari kematiannya 16 November nanti. Tahun 2020 ini sudah cukup berat, bertahan untuk tetap hidup di masa pandemi Covid 19, perlahan bangkit dari luka ditambah lagi kini kehilangan seseorang yang selalu mendukung entah apapun yang saya lakukan.

"Ayu gak ke Makassar lagi?" ujarnya meski sudah bertahun-tahun saya tak lagi ke Makassar. Baginya, saya adalah mimpi-mimpi sederhana yang tak bisa ia lakukan, naik pesawat, bepergian jauh, mengenyam pendidikan tinggi, membaca buku sebanyak-banyaknya, dan pernah mengajar anak-anak.

Di peringatan tujuh hari kematiannya, ibu saya membawa pulang salah satu buku tulis kakek saya yang berisi tulisan tangan dengan aksara pegon sunda (Arab Sunda), ia menulis semua kejadian penting keluarganya bak jurnal harian pribadi, anak, cucu, cicit juga kerabatnya ditulis dalam buku tulis yang tebalnya tak sampai 28 halaman, buku tulis tipis bekas yang biasa ia minta dari cucu-cucunya yang bersekolah. Ia tak pernah mengenyam pendidikan formal, tetapi cukup pandai menulis aksara pegon sunda, pernah suatu hari saya menemukan catatannya tentang sejarah kota bogor dan salinan tafsir Al-Qur'an yang ia tulis sendiri.

Kakek saya adalah sosok sederhana yang pernah diminta untuk menjadi guru mengaji tapi tak punya rasa percaya diri untuk menjadi guru, ia lebih sering menulis sendiri di waktu luangnya setelah berjualan sayur, membuat kaligrafi, dan membuat almanak dari sisa-sisa kertas bekas setiap tahun.

"Sholatnya jangan pernah ditinggal, ngajinya juga". Seumur hidup, saya hanya pernah menginap satu kali di kamarnya, umur saya 10 tahun saat itu, alasannya saya ingin mendengar puji-pujian/shalawat nabi yang seringkali kakek saya ceritakan sebelum adzan maghrib juga karena keesokan harinya ada 'lebaran cakung' perayaan yang tiap tahun diadakan di daerah tempat tinggal kakek saya, selalu akan ada banyak penjaja makanan dan juga mainan karena ramainya peziarah dari dalam maupun luar kota.

Almarhumah kakak saya, nenek saya dan kini kakek saya ada di satu lingkungan pemakaman yang sama. Setiap hari raya idul fitri, ia akan selalu menjadi yang pertama menuju makam ketika keluarga saya datang untuk berziarah, memimpin doa bergantian dengan ayah saya. Dan kini ia tak ada lagi.

Usai pemakaman kakek saya, ayah saya berujar "Bapak tuh kenapa selektif sama orang yang deket sama kamu, bisa sholat sama ngaji atau engga, karena kalau dia muslim ya dia harus paham apa yang sudah jadi kewajibannya, dan gimana cara dia memperlakukan orang lain, suami kan akan jadi pemimpin, bimbing kamu dan anak-anak kamu, dan misal bapak meninggal nanti, doa anak-anak sholeh buat orang tuanya kan ga akan terputus amalnya."

Pada akhirnya, semua akan ditinggalkan dalam kesendirian dan kesunyiannya masing-masing, sementara yang hidup tetap harus berjalan hidup. Selamat jalan, bapa. Terima kasih banyak sudah jadi kakek yang baik dan tak menuntut apapun.

Foto ayah saya (peci putih) dan almarhum kakek saya (peci hitam)

Allahummaghfirlahu warhamhu wa ‘afihi wa’fu anhu wakrim nuzulahu, wa wassi’ madkhalahu, waghsilhu bilmai was salji, wal baradi, wa naqqihi minal khathaya, kama yunaqqas saubul abyadu minad danas. Wa abdilhu daran khairan min darihi wa ahlan khairan min ahlihi, wa zaujan khairan min zaujihi, wa adkhilhul jannata wa a’idzhu min adzabil qabri, wa adzabin nari.

Bogor, 2 November 2020
Read More