Matari

September 16, 2014

Anakku nanti,
Kulihat rambutnya sebahu, memakai pita merah hati, menggandeng tanganku menunjuk pada buku cerita yang ingin ia beli.


Pesta buku di kota ini memang tak seramai dan sebesar pesta buku di ibukota. Imaji membawa saya pada masa kolonial di saat gedung yang saya datangi beberapa waktu lalu, gedung rancangan Schoemaker yang dibangun tahun 1922 yang kini dikenal dengan nama landmark braga dahulu berfungsi sebagai sebuah toko buku yang bernama Van Dorp.

Entah seperti apa suasana toko buku ini di masa lalu. Di seberang toko buku adalah pasar bunga. Buku, bunga, dan diskusi ringan diantaranya. Jalan Braga di bayangan saya tampak sempurna.

Ia matari,
dua tahun dua bulan usianya. sedikit-sedikit meminta diceritakan cerita yang baru. sakadang peucang jeung sakadang kuya, ande-ande lumut, timun mas, atau sekedar cerita tentang mengapa matahari terbit di pagi hari dan terbenam di senja hari.


Dua buku seharga lima belas ribu rupiah saya bawa pulang hari itu dari pesta buku di landmark braga. Uang yang seharusnya saya pakai untuk mengisi perut terpakai untuk membeli buku-buku lawas yang menarik perhatian. Menunda lapar demi kesenangan.

Ia matari,
sehangat pagi, rambutnya sebahu, memakai pita merah hati, menggandeng tanganku menunjuk pada buku cerita yang ingin ia beli.
Read More