Vaksin Pranikah dan drama lainnya

August 24, 2020

Setelah menginjak usia dewasa, saya hanya pernah vaksin meningitis meningokokus ketika akan melaksanakan ibadah umroh yang tercantum di buku kuning dan digunakan sebagai syarat pembuatan visa umroh ke Arab Saudi.

Lalu, vaksin pranikah apa itu? 

Bahasa mudahnya adalah vaksin yang dilakukan sebelum menikah. Ada banyak jenis vaksin untuk dewasa dan tidak akan saya bahas secara detail. Vaksin pranikah bagi saya sendiri merupakan strategi melindungi diri.

Loh buat apa? 

Karena cinta saja tidak cukup para pembaca sekalian. 

Begini, ini semua adalah pilihan dan apapun yang dilakukan di hidup kita adalah tanggung jawab kita sendiri. 

Sebelum menikah, menurut saya pribadi selain ilmu dan finansial, mental dan fisik juga perlu dipersiapkan. Persiapan fisik diantaranya dengan mengetahui kondisi kesehatan baik diri sendiri maupun pasangan masing-masing. Ada pilihan premarital check up berupa rangkaian pemeriksaan kesehatan yang dilakukan pasangan sebelum menikah. Saat itu, setelah berdiskusi pertama-tama saya melakukan konsultasi terlebih dahulu ke obgyn (dokter spesialis kandungan dan kebidanan) di RS Sentra medika Cibinong. Membuat janji melalui telepon dan datang ke rumah sakit keesokan harinya.

Sebenarnya ada tes kesehatan yang dibalut dalam paket pranikah yang biasanya ada di rumah sakit,

1. Tes Darah (HB, Trombosit, Analisa Hemoglobin, HbsAg, Leukosit, dll).

2. Golongan darah dan rhesus. Karena saya sudah tahu golongan darah dan rhesus saya, ini saya lewati. Pemeriksaan rhesus ini penting jika pasangan memiliki rhesus yang berbeda, misal beda benua.

3. HIV/ AIDS. Kalau sudah aktif secara seksual, tes ini wajib dilakukan. 

Ada beberapa rumah sakit juga yang menyediakan paket lengkap pra nikah dengan tes panel TORCH untuk mendeteksi adanya Toxoplasma, Rubella, Cytomegalovirus/CMV dan Herpes Simplex. Surat rekomendasi untuk tes panel TORCH ini bisa dikonsultasikan langsung ke obgyn, karena untuk ke laboratorium biasanya butuh surat rekomendasi dari dokter.

Di obgyn, saya melakukan tes ultrasonografi/USG untuk melihat adanya kista, mioma, tumor atau kelainan pada rahim. Biayanya sekitar 150 ribu rupiah belum termasuk konsultasi, ini harga di bulan oktober tahun 2019. Menurut dokter, rahim saya dalam keadaan baik dan tidak ada tanda-tanda kista mioma, tumor atau kelainan rahim lainnya.

Sekarang balik lagi ke vaksin pranikah,

Vaksin pranikah yang direkomendasikan oleh KUA biasanya vaksin TT (Tetanus Toksoid) untuk melengkapi dokumen persyaratan sebelum menikah dan bisa dilakukan di puskesmas terdekat dengan BPJS, Biayanya gratis. 

Vaksin lain yang direkomendasikan dilakukan sebelum menikah / aktif secara seksual adalah :

- Vaksin Hepatitis B

- Vaksin MMR

- Vaksin Varicella

- Vaksin HPV

Karena pada saat itu, ketersediaan vaksin Hepatitis B di rumah sakit yang saya kunjungi sedang kosong. Akhirnya saya mengunjungi Rumah Vaksinasi Bogor dan bertanya tentang vaksin pranikah. Dokter jaga serta perawatnya menjawab dengan ramah dan sangat baik.

Akhirnya, awal bulan November 2019 saya melakukan Vaksin Td, Vaksin MMR I, dan Vaksin Hepatitis B I di kedua lengan saya. Satu di lengan kanan atas dan dua di lengan kiri atas. 

Sebelumnya bisa konsultasi terlebih dahulu ke dokternya mau vaksin apa saja. karena ada beberapa vaksin yang tidak boleh digabung atau harus menunggu satu bulan setelah vaksin pertama dan vaksin yang setelah diberikan tidak diperbolehkan hamil setelah 1 bulan vaksin. Karena tidak semua imunisasi dapat diberikan kepada ibu hamil. Berikut rincian vaksin pranikah yang saya lakukan :

Vaksin Td (Tetanus Difteri) dewasa

Vaksin Td ini dapat diberikan kepada remaja dan dewasa untuk mencegah tetanus dan difteri. Kalau vaksin untuk anak-anak biasanya vaksin DPT atau DTP dan ketika dewasa bisa diberikan vaksin Td atau Tdap. Biaya sekali vaksin Td untuk dewasa di awal bulan November tahun 2019 adalah Rp 150.000,-.

Vaksin MMR (Measles, Mumps, dan Rubella) dewasa

Vaksin MMR untuk dewasa diberikan sebanyak dua kali dengan jeda waktu minimal 1 bulan. Vaksin ini digunakan untuk melindungi tubuh dari penyakit campak, gondongan dan rubella. Biaya sekali vaksin MMR untuk dewasa di awal bulan November tahun 2019 adalah Rp 475.000,- . Karena ada 2 kali suntik vaksin MMR. Maka total biaya vaksin MMR I dan II dewasa adalah Rp 950.000,-.

Vaksin Hepatitis B dewasa

Vaksin Hepatitis B digunakan untuk pencegahan penyakit Hepatitis B. Vaksin ini diberikan sebanyak 3 kali dalam periode 6 bulan. Jeda pertama adalah satu bulan, karena saya suntik vaksin Hepatitis B yang pertama di awal bulan November 2019, Vaksin Hepatitis B II saya lakukan di bulan Desember 2019 dan vaksin Hepatitis B III saya lakukan di bulan Juni 2020. Vaksin yang digunakan adalah Euvax-B Adult dengan biaya Rp 275.000,- untuk sekali vaksin. Total biaya vaksin Hepatitis B I, II, dan III dewasa adalah Rp 825.000,-.

Vaksin Varicella dewasa

Vaksin Varicella digunakan untuk mencegah cacar air. Setelah melakukan vaksin cacar air tidak diperbolehkan untuk hamil dalam waktu 1 bulan setelah pemberian vaksinasi. Vaksin cacar air saya lakukan di akhir bulan November 2019 dan bulan Januari 2020. Vaksin yang digunakan adalah varivax dengan biaya Rp 675.000,- untuk sekali vaksin, sehingga total biaya vaksin varicella dewasa adalah Rp 1.350.000,-.

Vaksin HPV (Human Papilloma Virus)

HPV adalah penyebab utama kanker serviks pada perempuan terutama HPV tipe 16 dan 18 serta sering juga dihubungkan dengan beberapa jenis kanker lain. Vaksin HPV ini berisi virus like protein yang diharapkan dapat memberikan respon antibodi yang dapat menetralisir infeksi HPV sesuai dengan tipe HPV yang ada dalam vaksin. Jenis Vaksin HPV yang tersedia di Rumah Vaksinasi Bogor adalah Gardasil, jenis quadrivalen (HPV tipe 6, 11, 16, 18). Vaksin HPV diberikan sebanyak 3 dosis serial selama 6 bulan. Vaksin HPV bisa langsung diberikan tanpa skrining/pap smear bagi yang belum aktif secara seksual sedangkan bagi yang sudah menikah atau sudah aktif secara seksual dapat melakukan skrining/pap smear terlebih dahulu. Vaksin ini dapat diberikan mulai usia 12-55 tahun (PAPDI).

Saya baru mulai vaksin HPV I di awal tahun 2020, HPV II satu bulan berikutnya, dan baru menyelesaikan vaksin HPV III di pertengahan tahun 2020 (dibolehkan maksimal 1 bulan keterlambatan dari dosis sebelumnya dengan konsultasi ke dokter terlebih dahulu). Biaya untuk sekali vaksin HPV adalah Rp 950.000,- sehingga total biaya vaksin HPV I, II, dan III adalah Rp 2.850.000,-



Maka, selesai sudah rangkaian vaksin pranikah dengan total biaya Rp 6.125.000,- belum termasuk biaya admin dan alat kesehatan karena di masa pandemi covid-19, biaya surat keterangan yang bisa digunakan sebagai pelengkap dokumen persyaratan sebelum menikah di KUA, serta biaya premarital test di Rumah Sakit.

Di tengah-tengah rangkaian vaksin ini, drama lainnya adalah seseorang yang saya anggap sebagai pasangan saya saat itu brengsek. Dan kata itu sudah cukup mewakili dirinya.

Bogor, Agustus 2020

Read More

Anything that goes wrong is not your fault

July 28, 2020

Seringkali saya mendapati diri saya menyalahkan diri sendiri atas situasi yang tidak bisa saya kendalikan dan saya merasa memiliki tanggung jawab atas apa yang terjadi. Saya melupakan fakta bahwa hidup adalah serangkaian trials and errors yang kadang tak kita pahami mengapa hal tersebut bisa terjadi.

Mantri, salah satu karyawan di tempat saya bekerja, memiliki gangguan pendengaran yang menyebabkan karyawan lain kadang kesal ketika memintanya mengerjakan sesuatu. Gangguan pendengaran yang ia miliki tidak menjadikannya mengutuk trials and errors yang terjadi dalam hidupnya. Ia akan selalu datang lebih pagi dibanding dengan karyawan lainnya. Salah berkali-kali, dibentak berkali-kali, kekurangan dan kelemahannya ia jadikan sebagai bagian dari dirinya.


We all make mistakes. not just you.

Menyalahkan diri sendiri termasuk core belief yang saya bawa sejak kecil dan memang sudah seharusnya saya ubah, saya mungkin kehilangan dan melepaskan banyak hal, saya seringkali memendam emosi yang tak bisa saya sampaikan, tetapi hidup harus tetap berjalan.

Di usia awal 20-an, saya berpikir bahwa membuat orang lain bahagia akan menyamakan kebahagiaan dan kebutuhan emosional pribadi saya. Saat itu, saya juga percaya bahwa perasaan ditinggalkan dan tidak diterima adalah indikator bahwa ada sesuatu yang salah dengan saya. Saya banyak menarik diri dari orang lain, yang kemudian saya sadari, hal itu hanya menciptakan lebih banyak keburukan dibandingkan kebaikan bagi saya. Saya mulai memainkan peran sebagai korban. Saya lemah dan oleh karena itu, mereka memperlakukan saya dengan buruk, pikir saya. Pikiran yang tak sehat itu terbawa hingga bertahun-tahun.

Saat ini, saya sedang berjuang untuk sadar penuh, menerima juga memaafkan diri sendiri bahwa apapun bisa terjadi dan siapapun bisa berbuat salah. 

Bogor, Juli 2020.
Read More