Takalar 2013

August 25, 2013

"Kalau ke sulawesi lagi, nginepnya di rumah saya. Kami disini kan keluarga kamu juga. Ayu punya kenangan ya sama aco. Baru beberapa hari udah kena tendang di punggung". Ujar bu camat, di rumah tempat saya menginap selama di takalar.

"Gapapa bu. Nanti kalo aco sudah jadi gubernur sulawesi selatan kan pasti saya ingat terus. Anak ini pernah nendang punggung saya sampe tidur di pelukan saya juga. Hehe."

Aco












Sulawesi Selatan, 2013
Read More

Pulang

August 22, 2013



Jalan poros kabupaten gowa-makassar tampak ramai dengan kendaraan dan lalu lalang orang yang pulang setelah bekerja.

Suara saya habis sama sekali dalam artian sebenarnya. Radang tenggorokan dan ingatan rumah membuat saya hanya ingin cepat sampai di bandara. Saya memutuskan pulang, menuju rumah walau hanya beberapa jam.

Saya sampai di bandara dengan panik dan dengan suara habis. Panik karena saya telat check in! Mau tak mau saya harus pasrah ketika tiket pesawat yang saya pesan beberapa jam sebelum saya memutuskan untuk pulang itu hangus. Check in pun tak dilayani karena keterlambatan.

Di pikiran saya saat itu hanya rumah, Ayah yang akan menjemput saya turun dari damri dengan motor dan kamar saya yang saya tinggalkan berminggu-minggu.

"Kamu dimana? bentar aku hubungi temenku, mudah-mudahan bisa ngebantu" Teman saya di makassar kemudian membantu saya mendapatkan tiket pesawat hari itu.

"Flight lain juga gapapa, yang penting bisa pulang malem ini dan ga jadi anak ilang sendirian di bandara kak"

"Aku kasih nomermu ke temenku nanti dia mungkin bisa ngebantu. Take care! Kasih kabar terus ya"

Kak siswi, Kak ima adalah orang-orang yang menyelamatkan saya dari kepanikan jadi anak ilang di bandara.

“Kita dimana?” dengan dialek bahasa makassar seseorang menghubungi saya via telepon.

"Di dekat pintu keberangkatan"
ujar saya dengan suara-suara yang tersisa.

"Gimana?" suara saya tak terdengar..

Telepon terputus. Tak ada harapan.

Panggilan masuk lalu datang lagi..

"Hallo"

"Ya. Hallo"

“Kita dimana?”

Suara saya makin habis, hingga akhirnya seseorang yang menelepon saya itu ternyata ada di depan saya, hanya dibatasi oleh pagar dan ia menyadari bahwa saya adalah yang dihubunginya sedari tadi.

"Kenapa kita telat check in?” kami berjalan menuju tempat check in di bandara yang sebelumnya saya tidak diperbolehkan masuk

"Iya. Macet tadi"

Ia lantas meminta boarding pass milik saya dan membantu agar tetap bisa check in.

Dalam pikiran saya ketika itu hanya ibu yang saya bayangkan sedang khawatir menunggu di rumah dan ayah yang pasti kedinginan karena menunggu saya di tempat pemberhentian damri. Besok malam saya sudah harus sudah di Makassar lagi.

Makassar- Bogor 2013

*kita = kamu dalam bahasa makassar
Read More

Tanjung Bira, Pulau Liukkang Loe dan Pantai Bara

August 18, 2013
















Sulawesi Selatan, 2013
Read More

Langit

August 14, 2013

Saya bertemu hujan tadi siang setelah berhari-hari di tanah sulawesi. Di jalan perbatasan antara makassar dan kabupaten gowa. Pulang setiap hari bagi saya kini adalah saat aco, anak bungsu pak camat diam-diam mengintip dari balik jendela, saat aco mengajukan banyak pertanyaan tentang pesawat dan tentang langit sembari duduk di teras rumah.

"Apa langit bisa disentuh?" Ujar aco.

"Aco mau naik pesawat? kalo naik pesawat langit terasa dekat”

"Saya mau naik pesawat. Ke Jakarta"

"Iya. nanti kakak masukkin aco ke tas trus ikut ke Jakarta"



Sulawesi Selatan, 2013
Read More

PPLH Puntondo - Takalar

August 12, 2013






Sulawesi Selatan, 2013
Read More

Pagi, saya mohon..

August 7, 2013

Jam setengah lima pagi waktu Indonesia bagian Tengah. Shalawat tarhim menjelang subuh di masjid dekat tempat saya menginap, membangunkan saya dari tidur yang hanya 2 atau 3 jam. Saya selalu menjadi orang pertama yang bangun pagi. Bergegas ke kamar mandi lantas membangunkan partner kerja saya yang baru akan benar-benar beranjak dari tempat tidurnya setelah setengah jam saya membangunkannya.

Kami datang lebih pagi dari biasanya, mengunjungi sekolah dasar di sebuah desa tertinggal di sulawesi selatan. Kaki-kaki kecil melangkah memasuki gerbang sekolah, menyimpan tas kemudian bermain menunggu bel masuk berbunyi, saya menyapa mereka tapi tak digubris, mereka tetap saja asyik bermain.

Bel masuk berbunyi, saya masih memperhatikan langkah kaki kecil mereka. Saya kemudian masuk kedalam kelas setelah mendapat izin dari pihak sekolah, menyapa mereka kembali. Melemparkan senyum, bercerita tentang perjalanan saya yang kedua di tanah sulawesi, sengaja saya bilang khusus untuk bertemu mereka. 

Satu per satu anak-anak melontarkan berbagai pertanyaan, bertanya nama, tempat tinggal saya, menginap dimana, hingga akhirnya partner kerja saya kemudian mengembalikan pada tujuan awal kami datang.

Saya dikenalkan pada beberapa kata dari bahasa daerah yang mereka pakai sehari-hari, menulis aksara lontara, juga menyanyikan lagu daerah. 

Pagi yang hangat di tanah sulawesi dengan anak-anak di desa tertinggal di salah satu kabupaten di sulawesi selatan. Pagi ini juga mengingatkan saya pada adik-adik YAFI di 3 sekolah di jakarta. 

Pagi, saya mohon jangan pergi. Pagi dan keramahan ini. Siang nanti saya akan kembali seorang diri. Merayakan hari lahir bersama sunyi.


Sulawesi selatan, 2013
Read More