Selamat menempuh perjalanan baru, sahabatku

March 21, 2021

Saya tak pernah menuliskan cerita tentang sahabat saya ini sebelumnya, ia tempat teraman, terpercaya selama 15 tahun saya mengenalnya. Ia bukan bank, saya gak nyimpen deposito juga di dia. Hahaha. Saya hanya menyebutnya sedikit di postingan 22 Februari23 Februari, dan di Januari 2016.
 
Lewat chat whatsapp, satu-satunya sahabat saya sejak SMA ini bertanya,

"Kapan libur?"

"Gak ada. Minggu tidur. wkwk"

Bukankah saya sibuk sekali bahkan di hari libur? Gaya banget emang. hahaha. Tapi, ia selalu punya cara mengajak saya pergi. Bertemu ayah saya di tempat saya bekerja dan pergilah kami berdua. Sudah.

Keluarga saya mengenalnya sebagai sahabat saya satu-satunya, pernah ayah saya bercerita pada pak ustadz ketika kami mengunjungi rumah pak ustadz untuk silaturahim, tentang saya dan sahabat saya ini "ayu ini cuma punya satu temen yang awet lama dan saya kenal".

Semenjak pandemi Covid-19 tahun lalu, hanya terhitung jari kami bertemu, meski masih tetap intens chat atau telepon via whatsapp. Saya lupa kapan tepatnya, ia bilang ia diajak untuk menikah. Saya lantas teringat perjalanan pertemanan kami hingga akhirnya kini ia menemukan lelaki yang menjadi pendamping hidupnya.

Bertemu ketika sama-sama berada di kelas 1 SMA dan terpisah ketika masuk kelas 2 dan 3 karena penjurusan, kami baru dekat kembali ketika sama-sama kuliah di Jakarta. Kami berbeda jurusan dan juga jam kuliah. Tetapi selalu menyempatkan untuk pulang sama-sama ke Bogor, ketika cerah, hujan, bahkan banjir. Ia selalu ada di masa-masa sulit saya.

Saya tak pernah membayangkan kemana arah hidup saya, jika ia kehilangan kesabarannya mendengar cerita-cerita saya juga memaklumi tingkah laku saya. Ketika saya sempat mengalami tremor di kantor tempat saya dahulu bekerja, ia yang menenangkan and I'm blessed to have her in my life.

Tentu banyak tawa dan kesenangan yang kami lalui, di Bandung 2 tahun dan bertanya-tanya apakah kami sempat berpapasan dengan lelaki yang dipilihnya kini atau ketika menukar tiket konser westlife yang seharusnya ia juga mungkin saja sudah berpapasan sebelumnya. Jalan Allah memang tak bisa diduga.

Saya tak kenal lelaki yang ia pilih, saya hanya mengenalnya lewat cerita-cerita yang ia sampaikan. Bertemu hanya ketika acara lamaran dan juga akad. Saya hanya selalu bilang "Lu nerima dia artinya lu siap nerima semua masa lalunya juga masa kininya yang ada elunya" kalau gak nerima mah ya gak jadi kan. kan adaptasi terus, belajar terus, lalu saya merasa diri saya keren, namanya juga pengalaman hidup :)))

20 maret 2021, sahabat saya menikah dengan lelaki pilihannya, terharu dan juga ikut bahagia. Pesan saya tetap sama, semoga bisa saling menjadi auliya' (pelindung, penjaga) satu sama lain, menjadi mitra taat pada kebaikan, bertumbuh bersama, saling sayang, saling support, saling peluk, saling melengkapi, bersinergi dalam menumbuhkan dan merawat mawaddah wa rahmah. Serta sakinah hingga akhirat. Aamiin.

Selamat menempuh perjalanan baru, sahabatku. Sebab menikah bukan berarti berhenti sampai disini, tapi akan ada perjalanan panjang yang dilewati. Barengin iman dan takwa jangan lupa ya ges. I'll be missing our chit chat gak jelas dan nginep bareng kita. 

Love you always,

Ayu.


Bogor, 21 Maret 2021

Post a Comment