22 Februari 2021

February 22, 2021

"Gw nonton story of kale, langsung nangis di menit-menit awal. Takut.." isi chat whatsapp saya ke satu-satunya sahabat saya, yang bulan depan akan menikah.

"Naon ari maneh, hahaha. Takut kenapa?" jawabnya.

"Ke trigger, dibentak-bentak. Berasa banget terus nangis, terus takut ampe gemeteran" kayak tokoh dinda di film.

"Takutnya kenapa?"

Saya kemudian menjelaskan alasan yang menjadi pemicu hinggu membuat saya menangis. Perilaku argo ngebentak-bentak dan guilt tripping ke dinda mengingatkan trauma saya. Saya pikir rasa sakit itu sudah selesai ketika suara-suara yang dulu menghantui saya tiap malam hingga sulit tidur, hilang dengan sendirinya. Nyatanya sesaknya masih hingga ulu hati. 

Bentuk perlakuan seseorang yang pernah berada dalam hubungan yang toxic dan abusive tidak bisa serta merta langsung hilang, terlebih jika dilakukan oleh orang yang sangat dekat dan bentuknya tak selalu fisik. Perilaku argo yang membuat saya merasa terpicu ada dalam bentuk verbal, emotional dan mental abuse pada dinda di menit-menit awal dan langsung saya stop untuk menonton. That's why, saya pernah menulis, saya sering menyalahkan diri sendiri atas situasi yang tidak bisa saya kendalikan di postingan Anything that goes wrong is not your fault.

Semua manusia memiliki kisah hidupnya masing-masing dari yang dianggap biasa hingga yang tak bisa benar-benar dilupakan. Saya pikir, saya sudah lupa, saya selesai, ternyata saya masih juga merasakan luka. 

"Iya gapapa itu reaksi, karena dulu kan lu ga bisa ngapa-ngapain. Harus diberesin, dihadapi. Lanjutin gapapa kalau mau nonton lagi tapi berhenti-berhenti nontonnya". Sahabat saya menenangkan.

Ketika saya nulis ini belum saya lanjutkan filmnya, sewa di bioskoponline.com 48 jam dengan harga Rp 10.000.

Bogor, 22 februari 2021, di sela-sela bekerja.

Post a Comment