Rahmat dan langit

November 7, 2013

"Kak, saya ajak lihat danau disana mau?" Rahmat, anak berumur 8 tahun, ayah ibunya berasal dari papua, rahmat mengajak saya, aco dan teman saya menuju rumahnya di sisi sawah, dua adik perempuannya yang manis memandangi saya penuh senyum.

"Dimana? jauhkah?" 
Kami yang sedang duduk di sebuah tugu syekh yang entah siapa namanya namun tak terurus kemudian melangkahkan kaki menuju danau yang ingin diperlihatkan rahmat.

"Disana ada apa rahmat?"
Rahmat tetap melaju kencang bersama sepeda yang ia pinjam dari pemilik warung di pinggir jalan poros mangarabombang - takalar. Saya, aco dan satu teman saya mengikutinya dari belakang.

"Kenapa harus pulang? Jangan pulang" Aco yang berjalan disisi saya tiba-tiba merengek dan menarik cardigan yang saya kenakan. Memohon agar ia tetap ditemani bermain setiap hari.

"Pekerjaan saya disini kan sudah selesai, aco yang main ke rumah saya nanti. Aco mau naik pesawat kan?" *tentang aco dan langit bisa dibaca disini.

"Itu danaunya" Rahmat memanggil kami sambil berteriak. Sebentar lagi matahari terbenam. Senja terakhir sebelum akhirnya meninggalkan kota takalar yang hangat. 




Mangngarabombang, 2013