April 14, 2017

Tentang belajar dan ia yang baru saja wisuda magister

"Learning was to make a better human being, learning was not to make more money, it was to make a better human being." - Sheikh Hamza Yusuf
Hari-hari ini, banyak diantara kita menemukan pola pikir bahwa sekolah yang tinggi adalah untuk pekerjaan, karir dan kehidupan yang lebih baik. Melihat segala hal dari sisi material, uang dan waktu yang dihabiskan untuk pendidikan tinggi harus mendapat kompensasi yang tinggi pula tanpa diimbangi dengan perilaku yang makin baik. Manusia-manusia tersebut enggan mendengar, menolak memahami lebih dalam. Manusia yang lebih sering cemas dan takut akan sesuatu yang sudah dilakukan tak berimbas baik pada kehidupan.

Pada masa hidup manusia yang singkat itu, ia lebih sering mencari kesalahan orang lain dibanding mengoreksi kesalahan diri sendiri. Ia juga bahkan belum memaafkan dirinya sendiri.

Manusia tersebut boleh jadi, sebagian adalah manusia yang terbiasa dibungkam sedari kanak-kanak. Manusia yang tak didengar, manusia yang mencari cara lain untuk bisa berekspresi. Sedikit orang tua yang sadar bahwa rumah dimana orang-orang terdekatnya berada seharusnya mampu memberi pendidikan paling dasar ini, kemampuan mendengar dan memahami.

Anak-anak usia dini lebih sering dijejali angka dan huruf tapi lupa diajak bercerita, lupa memberinya kesempatan mengenal dan memahami realitas kehidupannya sehari-hari. Dimulai dari cerita sederhana tentang pagi yang berkabut, kicau burung, semilir angin, tanah yang basah di musim penghujan hingga tanah yang kering di musim kemarau, semua cerita-cerita yang terpaksa dikubur dalam-dalam dan tergantikan dengan berhitung angka 1 sampai dengan 100, menghitung kebanggaan-kebanggaan sejak dini.
Orang yang sudah bersekolah tinggi belum tentu seorang pribadi terdidik. Seseorang dikatakan terdidik setidaknya setelah tiga puluh tahun ia belajar dari kehidupan nyata. Begitu kata Sheikh Hamza Yusuf, salah seorang pendiri Zaytuna College.
Contoh yang paling sering terlihat kini adalah manusia lebih senang berkomentar dibanding mendengar, membaca atau mengenal sesuatu secara utuh. Sebelum menunjuk siapa manusia tersebut, manusia dengan ciri yang sudah saya sebutkan tadi barangkali adalah saya sendiri.

Selamat wisuda magister untuk sahabat saya SATU-SATUNYA (Ya, I don't have many friends) yang entah kenapa ia masih saja bertahan menjadi teman saya sejak kelas 1 SMA dan sempat tinggal 2 tahun di bandung sama-sama. Teringat obrolan kita tentang kenapa memilih S2 dan terus belajar, it was to make a better human being, it was to make a better version of ourself. I couldn't agree more!

Sahabat saya yang baru saja wisuda magister (tengah).
Cihampelas Walk, Bandung, 13 April 2017.

0 Komentar: