November 6, 2015

Perihal Menjadi Ibu


TK Galenia 4 November 2015
Namanya Haikal. Anak salah seorang ustadz yang hari itu membimbing anak-anak taman kanak-kanak untuk praktek manasik haji di Bandung. Saya tak sempat memperhatikan anak ini ketika praktek manasik haji sedang berlangsung. Ketika evaluasi di aula TK tersebut, anak ini menunjuk dirinya sendiri yang dilihatnya di cermin sambil berbicara pada ibunya dan juga menunjuk saya.

Saya memintanya mendekat dan bertanya namanya. Ia langsung menunjuk kamera yang saya pegang dan bertanya, "ada ayah?"

Saya mencari-cari foto ayahnya dan bertanya "ini ayah haikal bukan?"
ia hanya menjawab sembari tersenyum dan berkata "ayah"

Jika ditanya apa yang saya inginkan, saya ingin menjadi ibu. Ibu dari Matari, anak perempuan yang saya impikan bahkan sebelum saya menikah, juga anak laki-laki calon pemimpin, dan mendidiknya bersama dengan partner hidup, partner dalam ketaatan pada Sang Pencipta, partner diskusi, serta ayah dari anak-anak saya nanti.

Menjadi ibu kiranya ialah karir terbaik, meski keinginan melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi selalu ada
, mengejar impian-impian yang tertunda ataupun keinginan-keinginan lainnya sebelum benar-benar menjadi ibu.

Saya tahu, ini tak mudah, masih banyak hal yang harus saya persiapkan. Hal ini bisa dimulai dari memaafkan diri sendiri terlebih dahulu.

Bandung, November 2015

August 29, 2015

Di lingkungan seperti apa

Beberapa hari yang lalu sebelum memulai aktivitas seseorang berkata pada saya,
Lingkungan yang membawamu pada keimanan dan ketakwaan pada Allah, jaga baik-baik ikatannya. Jika belum bisa berpikir positif, setidaknya kamu ada dalam lingkungan yang positif. Meski kamu hanya punya satu teman. Jika ia membawamu pada kebaikan lebih baik dibandingkan punya banyak teman tapi kamu masih dalam keadaan yang sama.
Perkataan yang baru saya sadari, diilhami dari perkataan Imam Syafi'i "Jika engkau punya teman yang selalu membantumu dalam rangka ketaatan kepada Allah, maka peganglah erat-erat dia, jangan pernah engkau melepaskannya. Mencari teman baik itu susah, tetapi melepaskannya sangat mudah."

Hal ini mengingatkan saya pada lingkungan pertemanan seperti apa saya pernah berada. Senantiasa mengingat Tuhan atau lupa pada Tuhan. Bagaimana cara melihat kebesaran Tuhan. Bagaimana memandang hubungan Tuhan dengan manusia. Seperti apa pemahaman terhadap Tuhan. Dan lain sebagainya.

Mengingat perjalanan yang pernah saya lalui serta 
lingkungan yang pernah mengisi hari-hari, saya seperti mencoba lagi berdiri, merangkak lantas mencari sesuatu yang dapat membantu saya menegakkan kaki. 

Pernah suatu hari, saya sedang dalam perjalanan pulang dan memutuskan untuk membeli makan malam dengan sebungkus nasi goreng. Seorang pembeli lain sudah menunggu pesanannya sebelum saya datang. Ada percakapan menarik bagaimana seorang penjual nasi goreng berbicara tentang Tuhan.

"Kalau kita buat salah sama orang kita sering minta maaf ya kang. Tapi kalau buat salah sama Allah, sholat jarang apa kita pernah minta maaf?" 

 
Tuhan dalam pemahaman penjual nasi goreng tersebut demikian sederhana. Kita lebih sering mencintai manusia, makhluk ciptaan-Nya, tetapi lalai pada Sang Pencipta.

Dalam Kata pengantar untuk bukunya Pastur Romo Mangunwijaya. Gus Dur menuliskan bahwa Nabi Muhammad menggambarkan Tuhan adalah sebagaimana dibayangkan oleh kawula-Nya, dalam arti Ia mampu mengisi segala rongga yang ada di benak manusia, dan semua sudut yang ada dalam hatinya. Al-Quran mengajarkan bahwa “Tuhan lebih dekat kepada manusia dari urat lehernya sendiri”, namun pada saat yang sama Ia “duduk tegak di tahta-Nya”.

Lingkungan berpengaruh besar terhadap pemahaman agama. Terhadap seperti apa hidup yang akan dijalani. Apakah kita hidup dengan iman? Sebab iman merupakan bagian utama dari kehidupan. Serta apakah lingkungan di sekeliling kita saat ini menumbuhkan sikap-sikap yang menghargai kehidupan, menghargai sesama, meski hidup dengan perbedaan dalam keyakinan?

Pendidikan dan lingkungan menjadi penting bagaimana menghadirkan pemahaman Tuhan yang Maha Baik, Maha Pemurah, Maha Penyayang dalam kehidupan. Caranya? Tunjukkan dengan keteladanan.

Lantas, di lingkungan seperti apa saat ini kamu berada?