December 3, 2014

Desember

Sudah desember dan saya tak menulis apapun di bulan yang lalu. Menyimpan cerita hanya untuk diri sendiri. 
Malam itu bapak sedang menonton televisi di ruang tengah bersama tiga kucing yang tinggal di rumah kami. Dua diantaranya adalah anak kucing yang lahir dua bulan yang lalu, sedang satu lagi adalah ibu dari kedua anak kucing tersebut. Sementara bapak di ruang tengah, ibu sedang di kamar merapikan pakaian yang kemudian hanya ia tumpuk tanpa menyimpannya ke dalam lemari.  
"Bapak pertama kali ke luar kota (dari wonosobo), ya ke semarang itu antar mbah buyutmu ke pelabuhan bareng warga kampung. Simbah jual sawah untuk naik haji. 6 bulan naik kapal laut, lantas naik unta dari madinah menuju mekkah" mata bapak tertuju pada televisi yang menayangkan kapal-kapal laut terbesar di dunia, sementara pikirannya jauh menuju ingatannya semasa kecil.
Bapak adalah pemelihara mimpi. Mimpi, baginya tak pernah benar-benar mati. Ia hanya tersimpan sementara di ruang lain. Mimpinya melakukan perjalanan jauh untuk naik haji seperti yang dilakukan mbah buyut ia simpan bertahun-tahun. Mimpi yang ia wujudkan setelah usia 40 tahun. Anak petani yang tak lulus Sekolah Dasar mendapat pekerjaan di kota pun rasanya sulit, apalagi naik haji. Saya masih ingat bapak pernah bercerita pada teman-temannya di tempat ia dulu bekerja tentang bagaimana bisa ia menemui mimpinya.  
Berkaca pada mimpi yang saya sisihkan, saya tak pernah betul-betul membuangnya. Sebab ia kadang muncul ke permukaan, bertanya apa benar ia dilupakan begitu saja.  
Desember, menuju akhir tahun ini saya tak mencatat apapun mimpi yang harus ataupun sudah saya capai. 
Sabar, syukur, ikhlas, cukup. 

*Desember, para penagih berbaris di depan pintu.
 Menunggu.

October 1, 2014

#CoralAdoption

Saya percaya mencintai laut bukan berarti harus selalu menyelam dan harus menikmati lembutnya pasir pantai. Saya memang memutuskan tidak lagi kemana-mana. Banyak cara lain yang bisa saya lakukan untuk mencintai laut. Salah satunya adalah dengan adopsi coral.

Tumbuh dan berbahagialah kalian!

#CoralAdoption Pantai Pandawa, Bali

#CoralAdoption Tulamben, Bali
Dokumentasi : Earth Hour Denpasar

September 16, 2014

Matari

Anakku nanti,
Kulihat rambutnya sebahu, memakai pita merah hati, menggandeng tanganku menunjuk pada buku cerita yang ingin ia beli.


Pesta buku di kota ini memang tak seramai dan sebesar pesta buku di ibukota. Imaji membawa saya pada masa kolonial di saat gedung yang saya datangi beberapa waktu lalu, gedung rancangan Schoemaker yang dibangun tahun 1922 yang kini dikenal dengan nama landmark braga dahulu berfungsi sebagai sebuah toko buku yang bernama Van Dorp. 

Entah seperti apa suasana toko buku ini di masa lalu. Di seberang toko buku adalah pasar bunga. Buku, bunga, dan diskusi ringan diantaranya. Jalan Braga di bayangan saya tampak sempurna.

Ia matari,
dua tahun dua bulan usianya. sedikit-sedikit meminta diceritakan cerita yang baru. sakadang peucang jeung sakadang kuya, ande-ande lumut, timun mas, atau sekedar cerita tentang mengapa matahari terbit di pagi hari dan terbenam di senja hari.


Dua buku seharga lima belas ribu rupiah saya bawa pulang hari itu dari pesta buku di landmark braga. Uang yang seharusnya saya pakai untuk mengisi perut terpakai untuk membeli buku-buku lawas yang menarik perhatian. Menunda lapar demi kesenangan.

Ia matari,
sehangat pagi, rambutnya sebahu, memakai pita merah hati, menggandeng tanganku menunjuk pada buku cerita yang ingin ia beli.

August 1, 2014

Catatan Perjalanan Pulang (3)

Si bungsu merengek. Si tengah mengeluh. Si sulung mendengar dan tidur saja. Ia pernah melalui hal yang lebih berat, pikirnya.
Malam sebelum si sulung mengajak kedua adiknya menuju dieng. Sang ayah menitipkan anak-anaknya agar mereka ditemani kerabat yang lain. Ia tahu anak-anaknya yang satu dengan yang lain memiliki sifat yang berbeda. Si sulung bisa menangkap ekspresi kekhawatiran pada mata ayahnya. Mata serupa yang biasa ia tunjukkan saat si sulung bepergian, luar kota larut malam, luar pulau berminggu-minggu. 

"Jaketmu sudah dibawa? Mas mu sudah dihubungi? Jangan ngebut di jalan. Jangan pulang terlalu sore. Kabut tebal nanti kamu kedinginan" rentetan pertanyaan dan kekhawatiran khas orang tua.

Pagi-pagi setelah tempe tahu goreng tepung dan sambal pecel mengisi perut. Dua motor pinjaman dari kerabat diisi dengan bahan bakar secukupnya. Mereka menunggu di sebuah pom bensin. Menunggu kerabatnya yang lain. Di seberang jalan, penjual durian sedang menata duriannya yang baru saja diturunkan dari sebuah mobil bak terbuka. Dipandangnya ayahnya yang sedang mengetuk durian dengan jari. Mencium wanginya. Lantas senyum simpul tersungging dari bibirnya. Bukan ayahnya yang dilihatnya. Bayangan ayahnya yang sering ia lihat ketika singgah di penjual durian.

Lima motor beriringan melintasi jalan berkelok khas pegunungan, watumalang menuju garung. Si tengah memberhentikan motornya. Tertinggal dari empat motor lain yang melaju didepannya. Menjer, entah berapa tahun yang lalu saat usianya masih satu atau dua tahun. Ada telaga yang dilihatnya berbeda dibandingkan telaga di tanah kelahirannya. Telaga dengan kabut tipis yang menggantung, cantik.

Hari libur lebaran membuat dieng dipadati wisatawan. Tamu-tamu berdatangan. Kedamaian dan keramahan desa membuat orang-orang penasaran untuk berkunjung. 

Tuan rumah tampak tak siap. Beberapa tamu kehabisan tenaga. Beberapa kembali dan tak melanjutkan perjalanan. Si bungsu merengek, mesin motornya berhenti mendadak. Sebentar, ia tenang. Mesin motornya kembali menyala. Kerabatnya yang satu rupanya tak kuat menanjak. Ia turun menuju bengkel terdekat. Tiga motor lain menunggu di sebuah warung. Menunggu si tengah dan si sulung yang tertinggal di belakang. Si tengah mulai jengkel. Ia benci kemacetan. Siapa orang-orang ini? keluhnya. Serba tak mau mengalah termasuk dirinya. Si sulung menenangkan. Tertawa kecil melihat tingkah adiknya.  
Empat motor terparkir dan si tengah masih saja menekuk muka. Si sulung menghubungi temannya yang rencananya akan ia temui. Kebuntuan ditengahi dengan tawaran mengisi perut di warung makan terdekat. Suasana hati mulai mereda usai dzuhur di musholla dan dilanjutkan dengan makan siang. 

Satu jam berkeliling di area kompleks wisata candi. Si sulung berniat menemui temannya. Ia asing pada 'rumah' yang berubah cepat dalam beberapa tahun. Rumah ini sesak. Mungkin karena hari libur lebaran. Tapi bukankah sebelum-sebelumnya rumah ini tak sesesak ini meski libur hari raya. Rumah yang seringkali disinggahi tiap kali ayahnya mengajaknya pulang. 



Empat motor yang semula terparkir, bergerak menuju kawah sikidang. Bergerak? Tidak. Semua kendaraan diam di tempat. Si sulung menyalahkan diri sendiri. Tidak. Bukan hanya diri sendiri, tapi juga orang-orang yang menghadapi kemacetan yang sama. Kemacetan ibukota dan kota-kota sekitarnya yang lebih parah memang sudah akrab dengannya. Tapi ini di rumahnya yang lain. rumah tempat keluarga yang ramah yang dikenalnya satu tahun silam, rumah yang.. Si sulung berusaha meredam pikirannya dengan candaan. "Gelar tiker, wis" 

Obrolan-obrolan beberapa kali mengisi di tengah kemacetan. Jarak yang seharusnya bisa ditempuh dalam 15 menit, ditempuh dalam 2 jam. Si tengah kembali menekuk muka. Entah bujukan apa yang akan meredakan suasana hatinya. Si sulung mulai kehabisan tenaga, hingga akhirnya sosok berkacamata dan suara yang amat dikenalnya memanggilnya. 


"Oalah mbak ayu.. piye kabare. Kapan sampe? Sama siapa?" Di parkiran motor mas erwin datang menghampiri. Ia masih sama. Periang dan membuat sekitarnya menjadi ramai. Si tengah dan si bungsu menghampiri, juga empat orang lain kerabatnya yang kemudian memperkenalkan diri pada mas erwin. Tampak ibu mas erwin yang langsung berdiri dari tempat duduknya melihat si sulung dan memeluknya. Diberinya beberapa makanan yang sedang ia jajakan diantara wisatawan. 

Energi yang datang dari perempuan bernama ibu memang selalu mengisi penuh pada relung-relung jiwa yang nyaris kehilangan asa. Peristiwa kepulangan pada jiwa hangat yang menerima seharusnya tak dipisahkan karena alasan malam menjelang dan kabut pekat. 

Si tengah dan si bungsu di ruang tengah bertukar cerita pada bapak dan ibunya ketika mereka akhirnya pulang hampir tengah malam. Si sulung mendengarkan sambil merebahkan tubuhnya. Menengok perjalanan beberapa tahun ke belakang. Ada setangkup haru. Ia bersyukur pernah melalui hal-hal yang lebih berat.


Wonosobo, 2014

Catatan perjalanan pulang (2)

Jalan yang berkelok dan hutan jati di perbatasan kabupaten menyambut dengan wewangian yang khas, wangi daun-daun basah, wangi segar embun yang jatuh ke tanah membaur dengan desau angin sejuk.

Saya selalu hafal nuansa ini. Juga pesannya, "Nanti kamu turun di camat lama, bilang ke pak kondekturnya. Biar mas mu yang jemput kamu disana".

Camat lama yang berarti kantor kecamatan yang dulu pernah dibangun di tanah itu kini hanya ditandai dengan sebuah patok yang disemen setinggi 50 cm. Kantor kecamatan yang baru dibangun di tanah yang lebih luas beberapa meter lebih jauh dari patok camat lama.

Tak jauh dari patok camat lama ada sebuah warung dan beberapa rumah. Di dalam gang yang sejalan dengan patok ada sebuah hall tempat bermain bulu tangkis. Saya pernah beberapa kali berjalan-jalan di sekitarnya. Yang tentu membekas adalah saat menjelang hari raya idul fitri, dimana kami berjalan berkeliling desa membawa obor ba'da isya sambil terkagum-kagum melihat atraksi 'makan api' yang dilakukan pemuda setempat. Kami berjalan menuju lapangan tepat didepan rumah (alm) nenek. Kemeriahan itu terekam sempurna hingga kini dalam ingatan. Tangan-tangan yang basah terkena minyak tanah, celana yang kotor ketika berjalan melewati rumput-rumput yang tinggi atau bahkan sandal yang tak sengaja menginjak kotoran kerbau.

Sesampainya di camat lama. Ada beberapa ruko baru. Belum terisi memang, tulisannya masih "disewakan". Gapura gang tempat rumah ua (kakak dari bapak) masih sama. Bercat putih dan selalu diperbarui tiap tahun menjelang perayaan hari kemerdekaan Indonesia. Bapak tak punya rumah di kampung halamannya sendiri. Sepeninggal nenek, tiap kali pulang kami selalu menginap di salah satu rumah kakaknya. Baginya, bau tanah itu sendiri adalah rumah. Langit yang senantiasa biru adalah atapnya.

Pagi itu sehabis menuruni bukit menuju makam nenek. Kami menuju sawah milik warga. "Harga cabai sedang turun", ujarnya ketika berjalan sambil terengah-engah menanjak menuju pematang. Tubuhnya yang gemuk memang menyulitkannya ketika berjalan di jalanan yang menanjak.

"Lihat kan. Walaupun cabai-cabai ini sudah layak panen. Beberapa petani malah gak panen. Mereka rugi. Dari 15000 jadi 5000 per kilo kok" Ia melanjutkan langkahnya melewati saya yang sebelumnya berjalan di depannya.

Bapak bertani dan menggembala bebek sejak kecil sebelum akhirnya merantau dan menikah dengan ibu. Ia kadang bercerita seputar durian di kebun nenek yang kini sudah dijual dan menjadi milik orang lain. Sepanjang pematang ia juga berkomentar tentang tanaman padi di hadapannya. Lantas ia menyapa salah seorang petani, yang ternyata teman mainnya semasa kecil.

Bapak yang sedang asyik bercakap dengan temannya, membawa saya pada ingatan yang jarang saya kunjungi. Teman masa kecil. Seingat saya, selain adik perempuan saya, dan juga sepupu. Saya hanya memiliki satu teman masa kecil yang sebaya. Lilis namanya. Terakhir bertemu dengannya saat masih SMP. Kini ia sudah menikah dan sedang hamil anak pertamanya.

Teman masa kecil ada untuk mengingat seperti apa perangai kita di masa lalu. Di kala meminta mainan dan memberhentikan setiap penjual makanan ringan diiringi rengekan agar segala keinginan terpenuhi. Lantas kita akan tersenyum geli ketika mengingatnya kembali.

Bapak membuyarkan lamunan saya ketika ia bertanya, "besok jadi ke dieng?"

"Jadi, pak".

"Ayo. Pulang" bapak berjalan meninggalkan pematang sawah. Pertanyaan yang muncul kemudian, pulang kemana? rumah di bogor, atau pada tanah kelahiran yang dicintainya. Pada tanah yang memberi perasaan aman dan langit yang memberi perasaan teduh.

Wonosobo, 2014

Catatan perjalanan pulang (1)

Barangkali bagi para orang tua, mengenalkan masa lalu pada anak-anaknya adalah upaya bagi dirinya sendiri untuk menolak lupa. Sang anak perlu diberi pengertian bahwa pulang bukanlah perayaan di momen-momen tertentu. Pulang adalah rumah dengan pintu yang selalu terbuka. Pulang adalah tempat kembali.  

Saya masih ingat bagaimana ayah saya sering mengajak anak-anaknya berkunjung pada sahabat dan juga kerabatnya yang bahkan jika ditarik dari silsilah keluarga, mereka adalah kerabat-kerabat jauh. Ia membawa kenangannya setiap pulang ke tanah kelahiran, bercerita dan melihat cerminan dirinya sendiri pada kami anak-anaknya. Pernah suatu hari di sungai di kaki bukit, pada arusnya yang deras, saya yang masih berumur sekitar 4 tahun diceburkan di sungai dan saya menangis hingga saya bersikeras tak mau lagi diajak ke sungai. Airnya yang deras seolah-olah akan menyeret saya jauh entah kemana. 

Saya memang tak takut lagi pada arus sungai yang mengalir deras, meski saya belum juga bisa berenang hingga kini, itu bukan karena ketakutan di masa kecil. 

Kemarin sore di hari kedua lebaran, saya berjalan menuju sungai, saya seperti melihat diri saya sendiri pada arus yang deras, pada air yang mengikis bebatuan. Beberapa tahun silam ada anak berumur 4 tahun yang menangis digendong ayahnya karena ketakutan diajak bertamasya, berenang bersama ikan-ikan. Ingatan ini saya rawat dengan baik dan sesekali berkunjung pada ingatan itu. Kelak ingatan ini juga akan saya ceritakan pada anak saya.

Pulang juga dapat dimaknai sebagai kembali pada ketiadaan, berziarah ke makam kakak, nenek, kakek juga mereka yang terlebih dahulu pulang keharibaan sang pencipta. Hal ini sebagai pengingat bahwa pada akhirnya nanti masing-masing dari kita pun akan kembali padaNya.


Berjalan-jalan, bersenda gerau dengan masa lalu adalah cara berkunjung yang menyenangkan, sebab masa lalu tak akan pernah kembali. Kita tak mungkin selalu statis, kita bergerak dan terus bergerak ke masa depan.

Dan kampung halaman, di udik, di tanah asal, mereka yang bepergian pada akhirnya kembali untuk pulang, membawa serta ingatan juga asal usul identitasnya.

  

Wonosobo, 2014

13 Juli 2014

"Sebab kehidupan, bukan bergerak dari waktu ke waktu, melainkan dari suasana ke suasana." Zen RS.
Saya mulai berbaik sangka pada sepakbola. Saya memang tak begitu mengerti dengan olahraga satu itu. Pernah, saya berselisih pendapat dengan seseorang terkait perilaku fanatisme suporter sepakbola yang kadang menurut saya terlalu berlebihan. Lewat jawabannya, saya meyakini anggapan saya benar ketika itu.

Sepakbola bagi beberapa orang adalah candu dan kebahagiaan masing-masing. Di tengah buku-buku yang banyak beredar. Sebuah novel dari esais, Zen RS dengan judul Jalan Lain Ke Tulehu menarik perhatian saya. Judul novel tersebut konon diilhami dari judul novel sastra lama karya Abdullah Idrus, Dari ave maria ke Jalan lain ke roma. Zen juga menulis cuplikan kalimat cerita pendek Jalan lain ke roma yang dikarang idrus pada novelnya, "Malam-malam sebelum tidur bayangan-bayangan mengejar dia".

Zen juga dengan apik membawa politik ingatan akan peristiwa '98, sajak pelarian terakhir karya dominggus syaranamual, serta nuansa musik klasik ave maria pada cerita yang ditulisnya.

Novel 300 halaman ini diceritakan kembali sore itu, wujud Gentur sebagai jurnalis tak lain adalah si penulis sendiri. Novel yang ditulisnya hanya dalam waktu yang singkat menurut pengakuannya dikarenakan sebelumnya, ia sudah melakukan riset terlebih dahulu dengan mengunjungi dan menginap langsung dengan warga desa tulehu. Sebuah desa muslim di maluku yang terkenal dengan kampung sepakbola. 

Catatan pribadi, Salak resto, 13 Juli 2014.  

July 15, 2014

Giri lusi, jalma tan kena kinira

“Bu, rumah saya dekat sini. Pulang sekolah nanti, saya ajak jalan-jalan ya bu.”

“Ibu mau ke pantai?”

“Bu. Nanti main lagi ya..” Suara anak-anak itu masih terngiang di kepala meski sudah satu tahun berlalu. Saya masih ingat setiap malam sebelum tidur, setelah mempersiapkan data dan keperluan untuk pekerjaan saya esok hari, saya akan menyempatkan diri me-review beberapa foto hari itu. Foto anak-anak dari sekolah yang berbeda. Foto anak-anak yang masih sangat lugu. Lantas berpikir, jika saya tak ditempatkan di kota ini. Jika saya tak pernah mengalami kekecewaan yang mendalam, jika saya tetap pada alur orang-orang kebanyakan. Akankah saya belajar banyak tentang manusia? Akankah saya belajar bahwa hati manusia tak bisa diduga? Giri lusi, jalma tan kena kinira.

June 30, 2014

Pagi sebagai awal dari segala hal

"Bagaimana kamu memulai pagi?
Pagi sebagai awal dari segala hal."

Dulu, 

Pagi bagi saya adalah ketika ibu membangunkan saya saat adzan subuh lantas saya tetap tertidur dengan lelap dan tidak menghiraukannya. Pagi adalah ketika ibu memanggil nama saya berkali-kali dan saya hanya menjawab dengan satu kata, "ya.." lantas menarik selimut kembali. 

Pagi adalah awal, 

sedang ibu adalah perjuangan, ketegaran dan kasih sayang bermula. Ibu mencintai pagi. 
Pada pagi, ia menitipkan doa juga harap di hari yang selalu berganti setiap hari.

Pagi itu, di tanah sulawesi, di takalar sulawesi selatan. Saya tak lagi dibangunkan ibu yang memanggil nama saya berkali-kali. Tapi saya merasakan hangatnya ibu di matahari pagi. Saya percaya, Ia senantiasa menemani. 


Saya seperti melihat ibu di rumah warga tempat saya menginap, di ruang kecil yang terletak di bagian belakang rumah yang dipenuhi dengan kain-kain dan benang. Ruang kecil dimana semua proses menjahit dilakukan. Pembuatan pola, pemotongan bahan hingga akhirnya dijadikannya sebuah pakaian. Seperti melihat ibu dengan mesin jahit tua nya yang ia pakai untuk menambal celana ayah saya yang bolong atau memotong gamis ibu yang terlalu panjang. 


Suara mesin jahit ibu di rumah terlintas dalam ingatan. Kayu-kayu yang keropos, tumpukan benang di laci dan juga kain yang belum selesai dijahit.

Saya sering mengayun pijakan dibawah kaki meja mesin jahit ibu dengan kaki kecil saya tanpa memikirkan benang yang akan kusut setiap kali saya usai memainkannya. Lalu ibu akan memarahi saya sambil menggulung benang-benang yang kusut dari dalam mesin jahit. 

Mesin jahit itu hingga kini tetap sama dengan mesin jahit yang sering saya mainkan sejak saya kecil. Mesin jahit yang sering dipakai untuk menjahit emblem seragam sekolah saya. Mesin jahit yang sering dipakai untuk menjahit pakaian saya yang robek karena tersangkut paku saat bermain. 

Melalui pagi juga suara mesin jahit ibu yang melekat di ingatan, saya menikmati kenangan itu. Meski saya sedang jauh darinya. Jauh dari rumah.

Dan pagi adalah ibu. Segala perjuangan, ketegaran dan kasih sayang bermula.



June 12, 2014

Aksi Kamisan ke-355

Jika kehilangan dianggap tak pernah ada. Mungkin mereka tidak benar-benar tahu bagaimana rasanya bangkit dari luka itu berlangsung cukup lama.

Matahari sore itu masih setia di setiap kamis, meski sesekali basah tapi ia tak pernah lupa membasuh cahaya pada wajah ibu-ibu kamisan juga para pejuang yang menuntut penuntasan kasus pelanggaran HAM. 

Tiap kamis sore, mereka berdiri diam dengan pakaian hitam dan payung hitam di seberang istana merdeka. Di mata mereka tersimpan harap juga penantian. Menanti suatu hari hukum ditegakkan. Mengobati kehilangan paling palung. Hingga kini, delapan tahun berdiri di luar pagar istana, beberapa kali dihalang-halangi kepolisian, mereka tetap teguh berdiri. Melawan dengan aksi diam, dengan payung hitam untuk keadilan.

Kamis sore itu berbeda, saya mengajak adik saya yang lahir pasca reformasi untuk melihat langsung aksi kamisan di depan istana. Empat belas tahun usianya. Barangkali saat saya seusianya saya tak tahu apa-apa tentang pelanggaran HAM. Di kamis sore itu, ia melihat sendiri bahwa negerinya pernah mempunyai sejarah yang kelam. 

Kami tinggal di desa. Desa kecil yang perlahan berubah wajah menjadi pusat industri. Tanah-tanah warga yang dulunya teduh dengan pepohonan kini ditanami beton. Menjelma menjadi pabrik-pabrik yang juga mengambil alih lahan pertanian. 

Aksi kamisan yang merupakan aksi damai yang dilakukan tiap kamis sore di depan istana itu, barangkali mengajarkannya, pada akhirnya cintalah yang akan menang. Cinta dan kasih sayang seseorang yang pernah kehilangan dan dirampas hak nya. 

"Apa mereka didalam sana dengar suara kita yang diluar pagar istana?" Tanyanya.

"Pasti. Ibu-ibu dan juga orang-orang yang kamu lihat tadi masih berjuang kan. Delapan tahun bertanya. Tiap kamis."





...sabar itu adalah satu yang dengan ketegaran, tidak frustasi untuk tetap menuntut...~Munir. 
Jangan diam! lawan!

Tentang @aksikamisan bisa dibaca di: http://www.kontras.org/index.php?hal=kamisan
-aksi kamisan ke-355. Jakarta, 12 juni 2014-

May 1, 2014

Karena perjalanan adalah proses

Laki-laki paruh baya yang memakai kaos bermotif loreng dan celana pendek terlihat sedang bersama beberapa orang di sebuah foto, foto yang menjadi alasan untuk saya kembali ke tempat latar belakang foto itu diambil. 

Cagar alam krakatau. Tempat yang seharusnya tidak dikomersilkan karena statusnya sebagai cagar alam. Saya akui, ego dalam diri sendiri lebih kuat ketika itu.

"Mungkin ini terakhir kali saya kesini pak, maaf kalau pernah merepotkan" Dua tahun lalu, ia dan juga kawan-kawan BKSDA lain berbaik hati menerima saya dan beberapa teman lain untuk berkunjung ke cagar alam krakatau dan pulau-pulau di sekitarnya. 

Saya masih ingat ketika ia bercerita tentang kesannya jauh dari keluarga karena harus berlayar dan bagaimana ia bertugas untuk memantau aktivitas gunung anak krakatau. Begitu saya akhirnya bertemu dengannya kembali, ia juga bercerita bahwa mereka kedatangan anggota keluarga baru yang tak lain adalah burung kuntul atau sejenis bangau putih yang mungkin sedang bermigrasi. 

Cagar alam memang seharusnya tak ada campur tangan manusia. Apalagi dijadikan tempat berwisata. Burung-burung ini mungkin merasa terganggu dengan semakin banyaknya orang-orang yang datang dengan alasan mencintai negeri atau alasan-alasan yang kalian definisikan sendiri.

November 2013. Sejak saat itu saya memang tak lagi melakukan perjalanan kemana-mana. Saya pulang, kembali ke rumah setelah perjalanan di sulawesi (karena pekerjaan), bali (karena konferensi), dan terakhir bertemu dengan pak susilo di krakatau. 

Beberapa postingan blog tentang cagar alam krakatau saya hapus karena cagar alam bukan taman wisata alam. Cagar alam adalah kawasan suaka alam dimana keadaan alamnya mempunyai kekhasan tumbuhan dan satwa yang dilindungi. Tanpa menyinggung pihak manapun semoga kita semua berproses menjadi lebih baik.

Dalam kenangan


Tiap tempat melahirkan kenangan, di mata teduh anak-anak pesisir, di senyum nelayan dengan jalan hidup yang penuh getir.

Hari itu belum terlalu siang. Waktu masih menunjukkan pukul 10 pagi. Dua balita berkejaran, tertawa riang di sekitar pesisir pantai, Tak jauh dari mereka, sang ayah sedang mengumpulkan dan memisahkan tangkapan hasil laut dalam karung.

Anak-anak itu tampak malu ketika saya mendekat dan bertanya nama, mereka lari menuju sang ayah. Dengan bahasa daerah setempat sang ayah berujar sesuatu yang entah apa artinya. Saya tersenyum ketika ayah anak-anak tadi melihat saya bersama kedua teman saya. 

Bakri, salah satu teman saya yang memang mengerti bahasa daerah setempat menghampiri nelayan tersebut. 
"Mereka bilang apa?" ujar saya khawatir 
"Apa?" ia malah balik bertanya. 
"Tadi saya cuma bilang boleh pinjam perahu satunya ga? Boleh bapak itu bilang. Mau nyebrang ke pulau sana?"
"Hah?" saya pikir bakri bertanya perihal anak-anak tadi. 
"Emang kamu bisa?"
"Bisa.." bakri lantas meninggalkan saya menuju perahu.

Saya mencoba menyusulnya dengan berjalan perlahan diatas lumpur. Anak-anak tadi sesekali mencuri-curi pandang dan tertawa melihat saya yang sulit mengangkat kaki ketika terjebak di lumpur.

"Bakri, tunggu!" saya tertinggal jauh. Pertanyaan-pertanyaan di kepala seakan menumpuk. Apa yang sedang kami lakukan, apa yang dikatakan bapak nelayan pada anaknya tadi, apa yang ada di pikiran anak-anak ketika saya menghampiri mereka.

Dan kedua teman saya ini kenapa kadang seperti kawan baru yang asing dan kadang bertingkah seperti kawan lama yang akrab. 
Ah yang jelas, keduanya sulit bangun pagi. 
Bakri (sweater hitam) dan rahmat (sweater biru)
Dengan langkah yang masih kesulitan mengangkat kaki karena terjebak dalam lumpur, 

"Bakri, kalau tenggelem, gw ga bisa renang"
Tak ada jawaban dari mulutnya, dayung yang terbuat dari kayu yang semula ia pegang, ia simpan kembali. 
"Sini kameranya, saya saja yang foto" 




Sulawesi Selatan dalam kenangan
*cerita-cerita lain di sulawesi selatan bisa dibaca disini

March 30, 2014

Plesir, senang-senang lalu pulang dapat apa?

Hunter Braithwaite pernah menulis di CNN Travel
Before the middle 19th century, tourism existed in the form of the Grand Tour, a trip through European capitals embarked upon by young aristocrats. But with the rise of the Industrial Revolution, the freeing up of capital, and the invention of leisure time, ordinary people gained the opportunity to see the world.
Tak dipungkiri meningkatnya orang-orang yang bepergian dengan berbagai alasan menimbulkan dampak yang begitu besar pada sebuah destinasi/tujuan wisata. Kini, bepergian bisa dilakukan siapa saja selama mereka memiliki waktu luang dan tentunya uang, mereka bebas pergi kemana saja. Ditambah lagi media sosial yang membuat segalanya terlihat indah.

Sebagai orang yang pernah bepergian, berteman, memiliki keluarga sekaligus kehilangan karenanya. Saya menolak bahwa bepergian adalah upaya mencari kebahagiaan atau yang lebih klise lagi membuka mata melihat dunia. Saya bosan dengan makna perjalanan yang dibuat-buat. 

Kemarin seorang teman bertanya mengenai akses menuju dataran tinggi dieng yang berada di perbatasan wonosobo dan banjarnegara. Bertanya perihal tempat-tempat wisata yang perlu dikunjungi dan hal-hal lain yang dibutuhkan.

Saya menemuinya, sebelumnya memang saya pernah bercerita tentang keluarga baik hati yang menerima saya dan dua teman saya disana. 

"Lo ga mau ikut yu?" ujarnya ketika saya menemuinya di tengah teriknya ibukota. 

Saya tersenyum, mungkin kiranya nanti, jika ada kesempatan yang membawa saya kesana lagi tujuan saya bukan untuk plesir, karena disanalah rumah. Ketika ibu menyambutmu dengan senyum di wajahnya, mengkhawatirkanmu ketika pulang tak tepat waktu, menyiapkan teh hangat, bahagia yang dekat sekali.

Semoga perjalanan mengajarkannya untuk pulang. Plesir atau rasa senang sebenarnya tak perlu jauh-jauh ia cari. Bahagia ada dalam dirimu sendiri.

February 24, 2014

Nglinthing, Sang Jenderal dan kisah kita diantaranya

Ia kembali menyalakan pemantik api dan menyulutkannya pada rokok. Saya yang duduk disampingnya seolah terbiasa dengan kebiasaannya.
"Sini, gw ajarin nglinthing rokok"
Pernah suatu sore saat saya sedang membuatkan teh untuknya, ia meminta saya melihatnya cara nglinthing atau dalam bahasa indonesia berarti meramu sendiri rokok kreteknya. 
"Tau Jenderal Soedirman?" ujarnya sembari menggulung pahpir/papier (kertas pembungkus rokok) yang sudah diisi dengan tembakau ditengahnya. 
"Iya. Panglima besar negeri ini."
"Sang jenderal ternyata perokok berat. Kamu tau?" 
Ia menyerahkan hasil linthingan rokoknya pada saya, tak seperti rokok yang dijual di warung-warung yang sudah lengkap dengan busa filter, satu bungkus tembakau dengan kertas pembungkus rokok yang diramu sendiri dirasa lebih hemat serta wangi cengkehnya lebih harum.
"Jenderal Soedirman ketika kesehatannya makin memburuk pernah meminta istrinya untuk merokok dan mengepulkan asap ke wajahnya" 
Ia menyulutkan api pada rokok hasil nglinthing dan melanjutkan ceritanya. 
"Istrinya tak berani melarang dan hanya bisa diam ketika sang jenderal tetap mengisap rokok kreteknya kendati sakit. Tuberkolosis dan infeksi paru-paru membuat sang jenderal terkapar. Ia juga bertahan dengan satu paru-paru bahkan ketika bergerilya" 
Ia mengakhiri ceritanya dengan senyum kecil sembari meminum teh yang sudah saya buatkan untuknya. Hujan rintik-rintik menemani kami. Saya mencobanya, nglinthing rokok

Seketika saya teringat perjalanan saat mengunjungi house of sampoerna di surabaya. Dengan cekatan, tangan-tangan wanita, para ibu, yang sedang berjuang mencari nafkah untuk keluarganya dengan nglinthing rokok dipertontonkan. Kita para penontonnya akan terdecak kagum, memilih empati atau acuh tak peduli.

Catatan ini saya akhiri dengan penggalan isi pidato jenderal soedirman ketika berpidato di RRI yang kemudian di sebarluaskan oleh Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat di Yogyakarta, 5 juli 1946.
"Tiap-tiap warga negara harus tunduk dan taat kepada pimpinan negara. Saya, baik pun sebagai warga negara Indonesia maupun sebagai panglima besar Tentara tunduk dan taat kepada Kepala Negara dengan berdasarkan sumpah yang telah diucapkan atas nama seluruh pimpinan tentara. Moga-moga hilang lenyaplah segala persangkaan dan perselisihan antara kita sama kita."

Salah satu jenis pahpir/papier (Kertas pembungkus rokok) 

February 23, 2014

Pendendam yang buruk

-"Ia tergila-gila tapi tak pernah berani menyatakan cinta"
Ia prajurit biasa namun dekat dengan Duryudana. Aswatama, putra dorna hanya mampu mendendam. Dendam cintanya pada banowati yang tak sampai, cemburu pada arjuna. Ia memupuknya, menyirami dan merawat dendam itu sangat baik.-

-Pada akhirnya, kekuatan dendam yang dipelihara membunuhnya..-

Laki-laki itu kemudian menghentikan tulisannya ketika seorang perempuan masuk ke dalam kamar kosnya yang tak pernah ia tutup rapat. 

"Saya suka membaca cerita wayangmu tuan, ada apa? apa yang menghentikanmu menulis?" Perempuan itu duduk disamping sang lelaki sembari membuka kantong plastik berisi makanan yang sengaja ia beli untuknya juga lelakinya.

"Kamu pernah dendam dengan seseorang kan? Bukankah hanya sesak yang memenuhi dalam dadamu jika hanya dendam yang kamu simpan terus menerus?" Ia memandangi perempuannya, cukup lama, menunggu jawaban apa yang akan terucap dari pertanyaan yang diajukan olehnya.

"Saya pendendam yang buruk tuan, kamu tahu itu"

Dendam seringkali memiliki dampak luar biasa, bahkan pada orang yang dicintai sekalipun. Ia akan semakin kuat jika terus dipupuk dan dipelihara. 

-Aswatama mencinta namun dendam menguasainya. Sudah tak beribu, berebut perhatian ayahnya pula dengan arjuna. Pun dengan wanita yang dicintainya, banowati, kekasih arjuna.-

Tulisan sang lelaki tak pernah selesai, ia masih mempertanyakan jawaban yang dimaksud perempuannya. Pendendam yang buruk, pendendam yang tertidur pulas dipeluknya.

February 14, 2014

Kelud. Been there. Last year.

13 Februari 2014. Pukul 22.49 WIB Gunung kelud kembali aktif. Meletus dan membawa hujan abu vulkanik hingga ke daerah sekitar Jawa timur, Jawa tengah, Jogja, bahkan meski tipis hujan abu vulkanik juga dirasakan di sebagian wilayah di bandung.

Ngrangkah Pawon, Kediri. Jawa Timur.
Saya masih ingat, hari kedua di tanah timur jawa, 1 Februari 2013. Jam 9 pagi, sebagian besar potret yang terekam ketika itu banyak sekali foto saat saya tertawa. Entah drama macam apa yang membuat saya seolah-olah bahagia.

Ibu, si mbak, om memang bukan keluarga saya. Tapi saya hutang budi pernah diizinkan tinggal, makan, dijemput di stasiun kediri, diantar ke gunung kelud dan juga blitar.

Sayang, bersama dengan hilangnya flash disk berisi foto-foto tanah timur jawa hilang pula simpati saya pada kenangan di dalamnya. Kami pernah berfoto dengan ibu sebelum pamit. Entah ia akan mengingat saya atau tidak. Semoga semua yang ada disana baik-baik saja.

January 1, 2014

Tiga Pagi dan Kisah Sebotol Bir

Ketika tidur hanya sebuah wacana. Ini tiga pagi yang kesekian kalinya. Tiga pagi ketika bar-bar menawarkan pesta dan kesenangan. 

Sebelum saya bercerita lebih lanjut. Saya hanya sedang menulis. Anggap saja ini racauan dini hari. Mungkin saya sedang mengigau, mengingat-ingat masa dimana dahi saya nyaris dikecup manis sebotol bir. Sebotol bir dan obrolan santai cenderung slebor dan slenge'an.

Mari sesekali kita berpikir positif bahwa kehilangan adalah hal biasa karena memang tak pernah ada yang kita miliki


Jam tiga pagi dan jatuh cinta pada @tigapagi 
Hanya makhluk bodoh yang berpikir nikmat dunia lebihi nikmat surgawi. Ujar Tigapagi, Menari. 
Orang baik bukan malaikat. Orang jahat pun nyatanya bukan iblis. 
Tiga pagi dan manusia-manusia yang terlelap dalam mimpi.  
Bangun! Mari bergegas. Lari dari. Sebelum aparat melerai dan baku hantam terhenti.

Tiga pagi dan kisah sebotol bir. Tuhan sedang ingin kau bercerita padanya, bukan pada tulisan racauan macam ini yu!