December 28, 2013

Kedai Kojo

Saya mengenalnya belum lama memang. Kira-kira satu setengah tahun lebih. Lebihnya banyak. Ia tahu semua cerita tentang saya. Tentang perjalanan. Tentang persahabatan. Tentang mimpi. Tentang cinta.

Jam sembilan malam, waktu dimana saya selalu diingatkan untuk pulang. Kedai Kopi Ijo atau lebih dikenal dengan Kedai Kojo akan selalu berkesan bagi tiap orang yang pernah menghabiskan waktu di tempat ini.



Vietnam drip yang sering dibuatin sama kang dhika.
Cappucino 
Ice cinnamon latte
Pisang bakar coklat keju
Kang angga
Uno!
Tempat yang menyenangkan bagi anak-anak
Tempat yang nyaman bertukar ide
Bogor Berkebun
Piknik
@travellerkaskus @rahung


Sampai jumpa lain waktu dan lain tempat dear @kedaikojo.

December 23, 2013

Kawan lama

Saya pernah.
Menangis hingga tersedu-sedu.

- "I hate people" 
Karena kamu begitu percaya. Karenanya ada benci. Saya pun membencimu, hingga tak ada ruang lagi membicarakan kebaikanmu. Tulisan-tulisan perjalananmu. Menutup diri. Kau sibuk dengan dunia yang kau bangun sendiri.

Tempat ini kesekian kali. Ditemani citylight dan dinginnya udara pegunungan. Saya menatap matanya yang merah karena menemani saya semalaman. 

-"Ada yang salah dengan tulisan-tulisan saya?"
Tidak ada yang salah dengan perjalanan yang membuatmu pulang, sayang. 

Bandung, 2013

December 19, 2013

December 10, 2013

Aisya. Kehidupan.

"Nai arennu?" Tanya saya pada seorang anak yang menghampiri saya. 
Sebelumnya saya memang sengaja mengingat kalimat ini dan berusaha melafalkan aksennya dengan baik pada setiap anak yang saya temui. 

"Aisya, bu guru.." jawabnya dengan malu-malu dan memanggil saya bu guru. Ini kali pertama saya bertemu dengan aisya. Aisya membantu membawakan barang-barang keperluan pekerjaan saya yang memang cukup banyak ke ruang kepala sekolah. Setelah menjelaskan maksud dan tujuan kedatangan saya pada kepala sekolah, saya bertemu aisya lagi di dalam kelas. Ia tersenyum ketika melihat saya.

"Bu, ibu bawa apa?" aisya menghampiri saya dan bertanya apa saja barang-barang yang saya bawa. Beberapa temannya yang lain juga ikut menghampiri, tak kalah penasaran dengan aisya. 

"Ayo duduk dulu. Nanti tulis nama di label yang ibu kasih ya" Ujar saya di depan kelas kemudian memperkenalkan diri. Aisya duduk kembali ke tempat duduknya. Mengambil spidol dan menulis namanya..

A i s

Tulisnya dengan singkat. 
Aisya yang saya tahu memiliki arti kehidupan dan senyum yang menyambut saya pagi tadi adalah senyum kehidupan. 



"Bu. Ibu besok kesini lagi kan?" Sekolah aisya adalah dua sekolah terakhir dari total 25 sekolah di takalar yang harus saya kunjungi.  
Saya tersenyum memandang wajah aisya.

"Saya harus pulang.."

Aisya diam. Berdiri mematung memandangi saya yang berjalan kian menjauh darinya. Saya tahu betul rasanya, merelakan seseorang untuk pergi..

Sulawesi Selatan, 2013

December 7, 2013

Rahmat dan langit

"Kak, saya ajak lihat danau disana mau?" Rahmat, anak berumur 8 tahun, ayah ibunya berasal dari papua, rahmat mengajak saya, aco dan teman saya menuju rumahnya di sisi sawah, dua adik perempuannya yang manis memandangi saya penuh senyum.

"Dimana? jauhkah?" 
Kami yang sedang duduk di sebuah tugu syekh yang entah siapa namanya namun tak terurus kemudian melangkahkan kaki menuju danau yang ingin diperlihatkan rahmat.

"Disana ada apa rahmat?"
Rahmat tetap melaju kencang bersama sepeda yang ia pinjam dari pemilik warung di pinggir jalan poros mangarabombang - takalar. Saya, aco dan satu teman saya mengikutinya dari belakang.

"Kenapa harus pulang? Jangan pulang" Aco yang berjalan disisi saya tiba-tiba merengek dan menarik cardigan yang saya kenakan. Memohon agar ia tetap ditemani bermain setiap hari, tetap ditemani menonton video di youtube melalui laptop saya, menonton mainan-mainan lego truk dan mobil pemadam kebakaran yang tak pernah bosan ia putar berkali-kali.

"Pekerjaan saya disini kan sudah selesai, aco yang main ke rumah saya nanti. Aco mau naik pesawat kan?" *tentang aco dan langit bisa dibaca disini.

"Itu danaunya" Rahmat memanggil kami sambil berteriak. Sebentar lagi matahari terbenam. Senja terakhir sebelum akhirnya meninggalkan kota takalar yang hangat. 



"Kenapa kita ajak saya kesini?" ujar saya pada rahmat
"Indah kan kak? Matahari. Langit" Rahmat berbagi pada saya tentang apa yang ia rasakan di tempat ini.

Saya menemukannya lagi, pecinta langit dan matahari. Doa, harapan dan cita-cita rahmat ada disana, di langit yang tinggi, tersimpan untuk ia gapai suatu hari nanti. 


Saya, rahmat dan aco

Mangngarabombang, 2013

November 27, 2013

Gerimis sore di Gianyar



Gerimis sore itu menyertai perjalanan saya menyusuri gianyar, Bali. Di sudut jalan tampak seniman-seniman Bali berdesak-desakkan dalam sebuah truk.

Seniman-seniman bali ini pada umumnya berkesenian sebagai bentuk ekspresi kecintaan pada Sanghyang Widhi Wasa. Sang Hyang Widhi adalah sebutan bagi Tuhan yang Maha Esa dalam agama Hindu Dharma masyarakat Bali.

Berkaca pada mereka, mungkin kita harus menggeser makna memberi dan menerima. Ketika orang lain mengajarkan ketulusan sedang kadang kita meminta ketulusan. Juga tentang sebuah kesederhanaan. Upah yang diterima seniman-seniman bali ini mungkin seharga makanan yang kau habiskan di restoran cepat saji. 


Bukan tugas kita untuk menuntut pada yang berkuasa. Tapi apa yang sudah kamu lakukan? Naif jika kamu berkata, saya sudah berbuat baik tapi anak-anak yang tidur lelap di trotoar dengan tumpukan koran lama kau biarkan. Kakek tua yang berjualan kerupuk berkeliling kota kau acuhkan, sedang kakek tua korup yang semestinya tenggelam dalam kolam lumpur kamu dengarkan.

Bangunkan saya jika semua ini sudah selesai. Kegelisahan yang tak kunjung usai. Temui saya di tengah-tengah buruh yang meminta kesejahteraan tapi beberapa diantaranya justru disingkirkan.

Bali, 2013

November 22, 2013

Pertama kali naik TransSarbagita

"Eh sarbagita dari gianyar rutenya sampe bandara? atau mesti lanjut taksi?" saya menghubungi fahri ketika hari terakhir berada di bali. 

"Gw lupa kayanya belum ada yang sampai bandara dan harus lanjut naik taksi, tanya sama mbak2 unyu, baiknya berhenti di halte mana yang terdekat. Jadi pulang sekarang?" -fahri- 





Memakan waktu sekitar satu setengah jam dari rumah wi, saya sampai di bandara pukul 2 WITA. 

"Ayu dimanaaa? Ntar gw buang nih pienya" sms fahri dan beberapa panggilan tak terjawab ketika saya masih di dalam TransSarbagita. 

":)))) baru mau sampe" 

Fahri yang tak sempat menemani saya selama di bali itu dengan baik hati menunggu di ruang tunggu bandara dan membawa buah tangan untuk saya bawa pulang ke rumah.

Bali Februari 2013 dan Bali November 2013 tentu meninggalkan kesan yang berbeda. Semoga ada kesempatan lagi kembali ke bali suatu hari nanti. 

Bali, 2013

Fahri Bakhar

"Bali asik banget kalo hujan, kayak bogor. tadi gw nyasar dong mau ke central parkir dari kuta" Isi sms saya pada fahri di hari kedua saat saya berada di bali. 

F : "Ini kayaknya bali sedih gegara lo dateng deh :))" 
A : "Jimbaran hujan deres banget"
F : "Udah kemana aja? Ini seriusan, bali tumben hujan lho"
A : "Tumbennya itu emang jarang banget?"
F : "Jarang yuk. tergantung tingkat keresahan jomblo"

Bali, Pertengahan bulan november 2013.
Jimbaran. Tak biasanya seteduh ini. 

Dua hari berselang, saya menghubungi fahri kembali.
"Gw udah di commday horreee :D"

Bali Community Day, Kertalangu, Denpasar.

Matahari sedang semangat siang itu menyapa bali. Menyimpan tas di belakang panggung, melihat sekeliling, saya berdiri di depan kain putih berisi tanda tangan pengunjung bali community day saat itu. Fahri menghampiri dan menyapa saya

Saya tak mengenalnya sebelumnya. Sosok ikal dan bertubuh besar ini seharusnya pernah saya ingat ketika sama-sama hadir di acara studentxceo summit tahun 2012 di ITB. Saya yang mewakili komunitas saya untuk presentasi kala itu tidak sepenuhnya mengikuti rangkaian acara dan memilih mencari tempat makan di luar ITB usai presentasi.

Karena sebuah pertemuan dengan mentari nurinda saat melakukan perjalanan tanah timur jawa-bali itulah kemudian melalui dunia maya saya diingatkan kembali pada sosoknya yang pernah saya kenal namanya tapi tidak dengan orangnya. 

Saya yang sempat 'off' dari dunia maya dan tak tahu kabar fahri lantas menghubungi mentari nurinda bertanya soal fahri dan niatan saya yang hendak ke bali. Fahri lahir dan tinggal di bali, di tahun 2013 ini ia adalah kepala sekolah akber bali



Ketika saya hendak pamit dan akan menuju gianyar, kami sempat mengobrol di sisi kiri panggung.. "Lo ternyata kecil yah?" ia lantas membandingkan tinggi dan postur badannya yang lebih besar dibandingkan saya.

Meski ia tak bisa menemani saya selama di bali. Saya berterima kasih banyak karena ia rela meluangkan waktunya di hari kerja menunggu saya, duduk manis sejam di bandara hanya untuk memberi buah tangan yang banyak ini :))



Kertalangu, 2013

Pasar Umum Sukawati

Angin semilir menyusup lewat celah-celah jendela. Harum bunga kamboja. Pagi yang menenangkan di gianyar. Mba yopi mengajak saya ke pasar umum sukawati. Jarak dari rumah tak begitu jauh. Pasar umum sukawati berada tepat di seberang pasar seni sukawati.




Berbeda dengan pasar seni sukawati yang lebih ramai dikunjungi wisatawan. Pasar umum sukawati pada umumnya lebih ramai dikunjungi oleh warga bali, dimana aktifitas jual beli terjadi, interaksi yang khas, wanita-wanita yang membawa barang belanjaan diatas kepala. 

Banyak jajanan khas bali. Kebutuhan pokok dan segala hal yang dibutuhkan oleh warga sekitar. Saya menyusuri ke dalam pasar. Menemukan keramahan dan senyum tulus. Pasar selalu menjadi tempat yang menyenangkan untuk mengenal suatu tempat. Mengenal warga asli lebih dekat.






Gianyar, 2013

November 20, 2013

Pura Tirta Empul

Pura Tirta Empul atau Pura Tampak Siring terletak di Gianyar, Bali. Wi dengan baik hati mengantar saya melihat pura ini. Pura tirta empul berada di bawah kawasan istana tampak siring.



Sebelum masuk ke dalam pura ada beberapa aturan, para pengunjung juga diharuskan untuk memakai kain sarung. Pura Tirta Empul terkenal dengan mata air suci yang digunakan oleh masyarakat hindu sebagai tempat melukat atau untuk memurnikan fisik dan spiritual.




Di halaman muka (Jaba pura)
Ada 30 buah pancuran di halaman tengah (jaba tengah) dari timur ke barat
Melebur atau melukat
Pancuran yang dilarang untuk mandi bagi yang masih hidup (khusus untuk yang sudah meninggal)





Jeroan (bagian dalam pura)
Gianyar, 2013