November 8, 2012

Pangandaran

Saya sedang duduk di terminal kp. rambutan malam itu. Disamping saya duduk sekelompok pemuda yang kebanyakan gondrong dan sepertinya mau naik gunung. Tipikal anak muda yang entah memang sudah biasa mendaki dan menjunjung tinggi kebebasan atau hanya ikut tren traveler/pendaki dadakan.

Saya menunggu cukup lama kak ariz dan kak nung. Saya pernah bertemu ariz di krakatau. Kami berniat menuju ciamis, pangandaran, menemani survey kak nung dan kak ariz untuk trip green canyon. 


Hampir tengah malam mereka akhirnya tiba di terminal kp. rambutan, bus arah banjar-ciamis sudah tidak ada. Rencana awal pergi ke ciamis dialihkan menuju tasik. 
 
Sekitar jam setengah 7 pagi kami sampai di tasik. Sarapan pagi kemudian menumpang bus menuju pangandaran.

Saya hanya punya waktu satu hari di pangandaran, pamit lebih awal karena harus menghadiri salah satu acara di bandung. 





Tulisan kak nung tentang perjalanan kami di pangandaran : http://coretansangpejalan.blogspot.com/2012/11/pangandaran-dan-uniknya-si-plegmatis.html

October 8, 2012

Indragiri

Saya kembali lagi ke ciwidey setelah beberapa bulan sebelumnya menginap di desa ini bersama beberapa teman saya, desa yang membuat saya berkali-kali jatuh cinta dengannya. 

Siti, mengintip dari balik jendela rumahnya dan memanggil saya dari kejauhan,

"Kakaaak.."
"Kak ebbi kemana kak?" 

Hayati kemudian menghampiri saya dan bertanya mengapa hanya saya dan kak nay serta orang-orang baru yang datang mengunjungi mereka. Ia dua tahun lebih tua dibandingkan siti yang masih berumur 5 tahun. Ia mencari-cari kak ebbi saat pertama kali melihat saya dan kak yunay. Pertama kali kami datang ke tempat ini memang saya, kak yunay dan kak ebbi yang diingat oleh anak-anak ini.

"Ada liputan sayang. Kapan-kapan kak ebbi kesini lagi kok"

Warga desa sedang kerja bakti membangun jembatan saat itu. Desa selalu menjadi tempat melihat wajah-wajah insan yang ramah. Tidak seperti kota yang selalu serakah dengan kekuasaan.










Bandung, 2012
*image by : bang hanz
Foto-foto lain bisa dilihat disini

August 26, 2012

Bunda lydia

"Saya ga mau terlihat seperti orang sakit. Semampu saya, saya akan berusaha hidup saya bermanfaat. Saya ingin hidup saya berkualitas" bunda Lydia

Saya bertemu dengan bunda lydia pertama kali ketika pendakian ke anak gunung krakatau. Bunda lydia adalah salah seorang survivor kanker leukimia kronik. 

Leukemia baginya bukan menjadi penghalang untuk berbagi. Saya dan kak ebbi berkesempatan mengunjungi rumahnya kemarin. Mendengar ceritanya, bunda aktif di himpunan masyarakat peduli ELGEKA (Indonesian Chronic Myeloid Leukemia (CML) & GIST Community). Himpunan ini membantu sesama pasien Leukemia untuk berbagi, diskusi pengalaman, memotivasi serta memfasilitasi kebutuhan bantuan obat Glivec. 

Bunda juga bercerita bahwa donasi 500 juta dari sponsor hanya bisa menolong 40 orang dalam jangka waktu untuk obat setahun. Sementara masih ada lebih dari 100 orang yang harus mendapat pertolongan.

Lantas, sudahkah kita bersyukur dengan hidup yang Tuhan berikan pada kita?
Kak ebbi dan bunda lydia saat di anak gunung krakatau

August 20, 2012

June 19, 2012

Baduy Culture Trip

Saya mengenal teman-teman kakikukakukaku bermula di tempat ini. Kak yunay yang pertama kali menghampiri saya ketika itu untuk menuju bus. 


Kami menginap di desa ciboleger, baduy luar. Rumah penduduk di desa ini tak semua dialiri listrik. Disinilah saya mulai mengenal kak nung, kak ebbi, kak aziz, bang hanz, bang chip dan kak arip.



Kak arip. Foto pertama yang saya ambil ketika sampai di desa ciboleger

Keesokan pagi, kami melanjutkan perjalanan menuju desa cibeo, baduy dalam. Hanya di desa baduy luar kami diperkenankan untuk mengambil gambar. 

Lumbung padi


Sore hari sampai di cibeo kami mandi untuk membersihkan badan. Laki-laki mandi di sungai sementara perempuan mandi di bilik kecil tanpa pintu, dengan gayung dari batok kelapa. Kami dilarang untuk menggunakan sabun atau shampo. 

Berbeda dengan penduduk di suku baduy luar, penduduk di suku baduy dalam mengenakan pakaian berwarna putih sedangkan baduy luar mengenakan pakaian berwarna hitam namun seiring dengan perkembangan zaman dan masuknya budaya modern suku baduy luar membaur dan sudah mengenakan pakaian seperti yang kita pakai. Pemukiman penduduk di suku baduy luar lebih tertata sedangkan di baduy dalam mengikuti kontur tanah.


Puun sebutan untuk kepala desa suku baduy juga menceritakan tentang isi dari rumahnya. Ada bejana yang harganya jutaan rupiah tempat menyimpan pakaian yang merupakan harta berharga mereka selain hasil panen.



Di desa cibeo kami menginap dan berbincang dengan pemilik rumah, Ia bisa membaca dan menulis. Pedagang-pedagang makanan pun mulai masuk di sekitar perkampungan baduy dalam. Pengaruh dari pengunjung yang terus menerus datang membuat beberapa rumah tampak sampah berserakan.  


Perjalanan kemudian dilanjutkan menuju desa cikeusik, baduy dalam. Tujuan kami kali ini adalah untuk menyerahkan baksos bahan makanan dan obat-obatan di desa cikeusik. Baksos diberikan karena kabar terakhir penduduk desa ini pasca kebakaran mereka terkena ispa/ infeksi saluran pernapasan.



Laki-laki baduy luar
Anak-anak suku baduy luar


Jamidi 
Banten, 2012