October 16, 2017

Adik perempuan saya menikah

Kami sedang di ruang tengah, saya sedang tidur-tiduran di lantai, bapak dan adik perempuan saya duduk bersila, sementara ibu duduk tak jauh dari kami. Adik laki-laki saya, sedang ada di kamarnya saat itu. Berawal dari obrolan santai sekitar beberapa bulan lalu, minggu kedua di bulan oktober 2017, adik perempuan saya resmi dipersunting laki-laki pilihannya. 

Yi (panggilan kami untuknya) adalah adik perempuan saya satu-satunya. Dalam banyak hal, ia begitu berbeda dibandingkan dengan saya, saya yang tak banyak bicara dan tak bisa memulai obrolan, ia bisa dengan mudah melakukannya. Saya yang cenderung tertutup, adik saya lebih terbuka, lebih banyak teman, dan lebih ekspresif bahkan ketika suasana hatinya terganggu. Ia juga yang lebih dekat dengan bapak, ibu dan juga adik laki-laki saya.

Lelaki yang dipilihnya adalah pelengkap dari segala kekurangan dan kelebihannya. Lelaki yang akan memimpin ia dalam menjalani bahtera rumah tangga. Adik perempuan saya kini telah tumbuh dewasa, menjadi istri, dan kelak menjadi ibu. But still, she's my lovely sister. Berbahagialah kalian, doa terbaik selalu mengiringi  



Kiri ke kanan : Bapak, Sepupu, Pengantin pria, saya di tengah, yi adik perempuan saya, sepupu, ibu.

August 20, 2017

Sebelum berlalu

Di hari ulang tahun saya, tidak ada lilin, tidak ada kue, tidak ada bunga dan tidak ada ucapan khusus seperti biasa. Seingat saya hanya ada satu kali dimana ada lilin, ada kue dan teman-teman saya, yaitu ketika memasuki usia 4 tahun. Hari itu saya mengenakan gaun putih selutut dengan hiasan bunga berwarna merah di dada kiri. Teman-teman kecil saya hadir membawa hadiah, beberapa diantar oleh orangtuanya, berpakaian rapi, rambut disisir, dan bedak yang tidak hanya dikenakan pada wajah tetapi hingga ke sebagian rambut. 

Seharusnya saya menceritakan padamu, bagaimana saya melewatkan hari ulang tahun saya beberapa hari yang lalu. Hari yang saya lewatkan dengan melakukan perjalanan tak tentu arah seorang diri, hari dimana justru keluarga berkumpul untuk acara khusus adik perempuan saya, hari yang terasa lebih panjang dari biasanya. Seringkali saya tak tahu bagaimana cara membagi sesuatu hal pada orang lain. Hari yang panjang itu toh tetap baik-baik saja meski dunia kian sesak oleh orang-orang yang riuh berebut perhatian.

Saya berusaha tidak menghitung berapa ribu langkah lagi yang harus saya tempuh di jalan yang saya pilih kini. Saya justru harus lebih banyak bersyukur dan berterimakasih untuk semua hari-hari yang mengajarkan bahwa hidup adalah rentetan proses yang panjang.

July 12, 2017

Kematian yang akrab

Di ingatan saya, ia sedang menegur dan mengingatkan saya sewaktu saya lupa membaca Nun ‘Iwadh (nun kecil yang dibaca dengan harakat kasrah) ketika mengaji sebelum kami bekerja. Ia kemudian mengoreksi bacaan tilawah saya. 


Foto kang irfan (pakai syal di leher) yang di potret haikal di tahun 2015
_____________________________________________________________________

Saya sedang dalam perjalanan setelah mengunjungi kerabat di semarang ketika saya membaca link tautan donasi untuk irfan hadia iskandar pejuang kanker limfoma sel-T di internet. Saya yakin itu bukan kang irfan, rekan kerja saya ketika bekerja di Bandung dulu. Seseorang yang baik bahkan tak pernah marah ketika saya mengenalnya.

Saya lantas mencari tau dan benar saja ia kang irfan yang saya kenal. Sempat berencana menjenguknya dan menghubungi istrinya ketika masih dirawat di salah satu rumah pengobatan di tangerang, namun karena rem mobil yang blong, rencana tersebut saya undur satu hari dan ternyata kang irfan sudah kembali ke Bandung.

Berselang satu minggu, kang irfan berpulang (11/7). Ingatan tentang Nun ‘Iwadh masih terngiang, semua kebaikannya, semua hal-hal berkesan yang pernah ia lakukan. Kenangan baik tentangnya sudah tentu juga membekas di semua orang yang mengenalnya. Kematian layaknya kawan akrab yang berlaku pasti. Ia amat dekat. Walau kita berupaya lari darinya, ia tetap akan merengkuh kita dalam pelukannya.


Kematian yang layaknya kawan akrab ini juga mengingatkan saya sekitar satu tahun lalu, satu minggu sebelum Ramadhan. Seorang teman (almarhumah) mengantar saya hingga saya benar-benar hilang dari pandangannya.

"Hati-hati di jalan teh" ucapnya tepat di depan pintu ketika saya akan masuk ke mobil. Kata-kata terakhir yang saya dengar itu seolah menemani saya sepanjang perjalanan. Sebelumnya ia memeluk saya erat sekali. Peluk dan pertemuan yang tak saya sangka menjadi yang terakhir kalinya.

Tak hanya pada terminal, bandar udara, pelabuhan, maupun stasiun, kita kerap mengantar pergi dan menyambut pulang, Di depan pintu keluar rumah, kantor, kendaraan atau tempat-tempat usai kita bertemu dengan seseorang, mengantar hingga punggungnya benar-benar pergi adalah upaya melepas kenangan yang tertanam. Begitu banyak kenangan yang kita lewatkan begitu saja. Di poin ini saya bisa saja salah. Sebab banyak kenangan yang kita harap terkubur dalam-dalam.


Pada akhirnya, kita yang ditinggalkan harus menerima bahwa kepergian memang harus dihadapi, Kematian juga menjadi pengingat untuk kita agar bersiap setelah ini kitalah yang berikutnya.

"Allahummaghfir lahu warhamhu wa 'aafihi wa'fu 'anhu. Ya Allah, ampunilah dosa-dosanya, kasihanilah ia, lindungilah ia dan maafkanlah ia".
Semoga Allah senantiasa melindungi dan memberi kesabaran kepada keluarga yang ditinggalkan.

April 14, 2017

Tentang belajar dan ia yang baru saja wisuda magister

"Learning was to make a better human being, learning was not to make more money, it was to make a better human being." - Sheikh Hamza Yusuf
Hari-hari ini, banyak diantara kita menemukan pola pikir bahwa sekolah yang tinggi adalah untuk pekerjaan, karir dan kehidupan yang lebih baik. Melihat segala hal dari sisi material, uang dan waktu yang dihabiskan untuk pendidikan tinggi harus mendapat kompensasi yang tinggi pula tanpa diimbangi dengan perilaku yang makin baik. Manusia-manusia tersebut enggan mendengar, menolak memahami lebih dalam. Manusia yang lebih sering cemas dan takut akan sesuatu yang sudah dilakukan tak berimbas baik pada kehidupan.

Pada masa hidup manusia yang singkat itu, ia lebih sering mencari kesalahan orang lain dibanding mengoreksi kesalahan diri sendiri. Ia juga bahkan belum memaafkan dirinya sendiri.

Manusia tersebut boleh jadi, sebagian adalah manusia yang terbiasa dibungkam sedari kanak-kanak. Manusia yang tak didengar, manusia yang mencari cara lain untuk bisa berekspresi. Sedikit orang tua yang sadar bahwa rumah dimana orang-orang terdekatnya berada seharusnya mampu memberi pendidikan paling dasar ini, kemampuan mendengar dan memahami.

Anak-anak usia dini lebih sering dijejali angka dan huruf tapi lupa diajak bercerita, lupa memberinya kesempatan mengenal dan memahami realitas kehidupannya sehari-hari. Dimulai dari cerita sederhana tentang pagi yang berkabut, kicau burung, semilir angin, tanah yang basah di musim penghujan hingga tanah yang kering di musim kemarau, semua cerita-cerita yang terpaksa dikubur dalam-dalam dan tergantikan dengan berhitung angka 1 sampai dengan 100, menghitung kebanggaan-kebanggaan sejak dini.
Orang yang sudah bersekolah tinggi belum tentu seorang pribadi terdidik. Seseorang dikatakan terdidik setidaknya setelah tiga puluh tahun ia belajar dari kehidupan nyata. Begitu kata Sheikh Hamza Yusuf, salah seorang pendiri Zaytuna College.
Contoh yang paling sering terlihat kini adalah manusia lebih senang berkomentar dibanding mendengar, membaca atau mengenal sesuatu secara utuh. Sebelum menunjuk siapa manusia tersebut, manusia dengan ciri yang sudah saya sebutkan tadi barangkali adalah saya sendiri.

Selamat wisuda magister untuk sahabat saya SATU-SATUNYA (Ya, I don't have many friends) yang entah kenapa ia masih saja bertahan menjadi teman saya sejak kelas 1 SMA dan sempat tinggal 2 tahun di bandung sama-sama. Teringat obrolan kita tentang kenapa memilih S2 dan terus belajar, it was to make a better human being, it was to make a better version of ourself. I couldn't agree more!

Sahabat saya yang baru saja wisuda magister (tengah).
Cihampelas Walk, Bandung, 13 April 2017.

March 20, 2017

Hal-hal yang tak terlihat dari kaca luar jendela saat hujan

Saya akui saya lebih sering melihat hujan yang turun rapat dan membasahi kaca luar jendela dari dalam kamar dibandingkan dengan basah karena tetesnya yang jatuh tak berkesudahan. Saya lebih sering membiarkan hujan menggigil sendirian diantara lampu-lampu jalanan di luar dibandingkan dengan menemaninya yang mengemis pelukan.

Rumah tempat saya tinggal selama lebih dari
 20 tahun memiliki banyak jendela, di bagian depan, di samping kiri, juga di samping kanan. Hanya saja karena untuk menjaga privasi, jendela bagian samping kanan diganti dengan dinding semen sekitar 10 tahun silam.

Hal yang paling menyenangkan dari tinggal di rumah yang memiliki banyak jendela adalah kita bisa melihat hujan tanpa harus basah kuyup menggigil kedinginan sembari menyesap kopi panas dan melamun seolah menemukan kepingan-kepingan kenangan yang seringkali membawa pesan kegelisahan. 

Saya selalu ingin menyatakan ini, saya sering memperhatikan segala yang terlihat dari kaca luar jendela saat hujan, saat orang-orang berlari memayungi kepalanya dengan tangan.

Kamu mungkin tidak
 tahu bahwa banyak hal-hal yang tak terlihat dari kaca luar jendela saat hujan. Kamu hanya tahu hari itu hujan dan kamu tidak ingin basah karenanya. Seperti halnya kamu tidak ingin keluargamu menanggung luka dengan melihatmu demam.

Sampai suatu ketika hujan reda, kamu hanya bisa melihat bahwa segala jejak akan tetap basah, jika tidak menggenang di permukaan tanah, barangkali jejak itu menggenang di pelupuk mata.